Upaya Dosen Universitas Harapan Medan Jadikan Masyarakat Mandiri Secara Ekonomi

Upaya Dosen Universitas Harapan Medan Jadikan Masyarakat Mandiri Secara Ekonomi

Kembangkan usaha rumah tangga gula merah dari nira kelapa sawit

(rel/rzd)

Selasa, 17 September 2019 | 17:42

Analisadaily (Medan) - Tiga dosen Universitas Harapan (Unhar) Medan, Arasy Ayu Setiamy, Winda Ardiani, dan juga Rizki Fillhayati Rambe, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Damak Maliho, Kabupaten Deli Serdang.

Masyarakat yang menjadi sasaran adalah yang tergabung dalam PKM Ibu-Ibu Rumah Tangga Desa Damak Maliho. Kegiatan didanai KemenristekDikti Tahun Anggaran 2019, dan dilaksanakan untuk mengembangkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi.

Arasy mengatakan, pihaknya melakukan beberapa langkah penting. Pertama, diberikan pelatihan dan pendampingan tentang mindset berwirausaha serta penyusunan laporan keuangan.

“Kegiatan ini disambut dengan baik. Hal ini terlihat dari antusias ibu-ibu dalam mendengarkan materi yang diberikan. Terjadi diskusi yang cukup lama, namun tidak melenceng dari materi, berkaitan dengan kasus dan permasalahan yang mereka hadapi selama ini,” katanya, Selasa (17/9).

Kedua, pihaknya melakukan pengadaaan peralatan. Dengan memberikan beberapa peralatan, diharapakan proses produksi gula merah dapat dilakukan secara efesien. Ketiga, pengujian laboratorium di Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan Badan POM, serta membuat merek di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI.

Langkah ini dilakukan untuk menambah nilai jual dari produk gula merah. Dengan adanya hasil uji laboratorium atas nira kelapa sawit dan produk gula merah ini, akan memberikan rasa aman bagi konsumen yang ingin membeli produk.

“Dengan adanya merek yang telah terdaftar, akan memberikan perlindungan bagi ibu-ibu pengusaha gula merah, sehingga produknya tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” sebut Arasy.

Diungkapkan Arasy, melalui program ini diharapkan pengetahuan masyarakat bertambah, dan mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya berdampak pada meningkatkan pendapatan mereka.

“Kemudian mampu memberikan pengetahuan bagi usaha sejenis dan usaha lain yang terkait,” ungkapnya.

Winda menambahkan, kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah memberikan pelatihan tentang mindset berwirausaha. Hal ini agar ibu-ibu rumah tangga tersebut dapat mengubah pola pikir tentang apa itu wirausaha.

“Kita juga memberikan pelatihan tentang manajemen keuangan, agar jika usaha gula merah kelapa sawit ini mau dikembangkan, mereka sudah bisa menyusun laporan keuangannya, walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Karena ini adalah kegiatan masyarakat ekonomi menuju produktif,” ujarnya.

Alat cetak gula merah (Ist)

Alat cetak gula merah (Ist)

Selanjutnya pemberian alat pemotong kayu. Tim memberikan alat ini agar mitra tidak menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menebang kayu sawit. Karena jika sawit sudah habis masanya akan di-replanting.

Sementara mesin yang diberikan berguna untuk membantu meringankan beban mitra dalam mengolah gula merah kelapa sawit, yang selama ini menunggu waktu berjam-jam untuk mengaduknya dengan tenaga.

“Kali ini kami meringankan beban mereka dengan memberikan mesin ini agar proses produksinya cepat, tidak seperti sebelumnya yang hanya menggunakan tumpukan batu bata dan kayu untuk membakarnya,” terang Rizki.

Selain itu, juga diberikan alat pencetak gula merah, yang mana biasanya pencetak gula merah menggunakan bambu atau batok, sekarang bisa lebih simpel dengan menggunakan pencetak gula merah berbahan kayu.

“Jadi para mitra tidak perlu menuangkan satu-satu gula merah, tetapi langsung dituang dan diratakan,” tandasnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar