Tutup Munas KAHMI, Jusuf Kalla: Keadilan Harus Diwujudkan dengan Kerja Keras

Tutup Munas KAHMI, Jusuf Kalla: Keadilan Harus Diwujudkan dengan Kerja Keras

Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup Munas KAHMI di Medan, Minggu (19/11).

(jw/rzd)

Minggu, 19 November 2017 | 19:31

Analisadaily (Medan) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup Musyawarah Nasional (Munas) KAHMI ke-10 di halaman Istana Maimun Medan. Dalam sambutannya, Jusuf Kalla mengungkapkan kemajuan bangsa dengan mewujudkan cita-cita, yakni menciptakan masyarakat yang adil dan makmur harus diupayakan dengan kerja keras. Tidak ada cita-cita yang dapat direalisasikan tanpa usaha yang dilakukan dengan baik.

"Tidak terasa KAHMI sudah berusia 50 tahun. KAHMI terdiri dari berbagai unsur, birokrat, akademisi, pengusaha, profesional, tentara, polisi dan sebagainya. Umumnya semua mengabdi kepada bangsa dan negara," kata JK, Minggu (19/11).

Lebih lanjut dikatakannya, hal itu merupakan harapan, namun bagaimana melanjutkan cita-cita bangsa, merealiasikan cita-cita itu yang penting. “Walau sering dikatakan yakin usaha sampai, tapi kalau hanya sekadar yakin terus usahanya sampai, tidak ada upaya sama saja. Tapi bagaimana sampai itu tentu bagian dari upaya kita,” ucapnya.

Hadir dalam kesempatan itu Mendikbud RI, Muhadjir Effendy, anggota DPR RI dan DPD RI, Ketua Presedium Majelis Nasional KAHMI 2012-2017, Mahfud MD dan para senior KAHMI, Presedium Majelis Nasional KAHMI yang baru terpilih 2017-2022, Gubsu Tengku Erry Nuradi, Plt Sekdaprovsu, Ibnu Hutomo, unsur Forkopimda daerah Sumut, Ketua dan jajaran pengurus Majelis Wilayah KAHMI Sumut, dan HMI Sumut.

Jusuf Kalla menegaskan, bahwa tidak ada cita-cita yang sampai dengan sendirinya. Tidak ada cita-cita yang terlaksana sendiri, semuanya dapat dirah dengan usaha yang keras. Makanya slogan HMI “Yakin Usaha Sampai” tentunya harus dibarengi dengan usaha yang keras.

"Bangsa ini bangsa kita semua, negeri ini negeri kita semua, karena itu baik dan buruknya negeri ini menjadi tanggung jawab kita semua," terang Jusuf Kalla.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini yang perlu dilakukan adalah bagaimana usaha kita untuk menjadikan keadaan bangsa ini tumbuh dengan seimbang, memiliki keadilan, sebab semua keadilan social itu tidak akan jatuh dari langit, tapi semua harus diusahakan dengan baik.

"Akibat kekurang stabilan yang terjadi di negara kita menimbulkan masalah ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tidak bisa dinikmati semua pihak, makanya harus diupayakan bagaimana dapat dinikmati oleh semua pihak."

"Untuk itu, harus tumbuh kader baru di bidang ekonomi, pengusaha, dan lainnya. Sebab, kalau di politisi itu sudah banyak, birokrat juga sudah banyak. Makanya, jangan semua mau menjadi birokrat, karena sangat sedikit yang dapat diterima setiap tahunnya," ujarnya.

Oleh karena itulah, lanjut Jusuf, harapan terbesar bagaimana memajukan perekonomian bangsa secara bersama, dan bagaimana bisa dinikmati semua masyarakat, caranya dengan mendorong generasi muda, kader HMI dimanapun berasa untuk menekuni usaha yang dapat memberikan manfaat bagi bangsa.

"Itu yang selalu kita harapkan, dalam membangun bangsa dan mengurangi kesenjangan bangsa ini serta mengurangi ketidaknyamanan, kekurang harmonisan pertumbuhan bangsa, semua harus diusahakan, tidak ada yang jatuh dengan sendirinya," papar senior KAHMI ini.

Dalam kesempatan itu, Wapres juga mengingatkan bahwa KAHMI harus kembali mengingat tujuan HMI yakni membina insan akademis pencitra dan pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terlaksananya bangsa yang adil makmur dan dirahmati Allah.

"Oleh karena itulah pada ujungnya kita semua berkewajiban membina bangsa ini agar maju dan makmur. Apalagi bangsa yang besar tidak mudah mengaturnya dibanding bangsa yang lebih kecil. Makanya, saya harapkan alumi kita yang besar harus mengingat dan tetap konsekuen atas tujuan Kahmi menjadi tujuan kehidupan bagi semua," terang Jusuf.

Wapres juga mengatakan, Indonesia merupakan bangsa dengan penduduk Islam terbesar di dunia dan menjadi salah satu bangsa yang damai jika dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah maupun Asia Selatan, Islam di Asia Tenggara ini jauh lebih damai.

"Hal itu diakibatkan sejarah islam yang dibawa oleh pedagang yang merangkap ulama atau sebaliknya, juga dipengaruhi oleh pikiran yang muncul dari HMI, seperti pikiran Cak Nur, Nurcholis Majid yang memberikan warna hingga sekarang kepada generasi bagaimana hidup bersama, bagaimana Islam berkembang dengan damai. Semua ini menggembirakan dan membanggakan, bahwa pikiran cendekiawan yang timbul," ungkapnya.

Oleh karena itulah, Jusuf Kalla mengharapkan organisasi KAHMI dapat menonjolkan intelektualisme kecendekiawanan. Kalau berbicara dengan batas intelektualitas, tidak berbicara tanpa ujung yang tidak diketahui.

"Begitu juga dengan bekerja, menjaga harmoni bangsa tidak akan tercapai tanpa kemajuan ekonomi, tanpa kemakmuran dan keadilan karena itu gabungan harmoni kebangsaan dengan kemajuan bangsa, makanya mari kita berupaya meningkatkan kemajuan bangsa dari sudut keilmuan, intelektualisme yang baik, tentu itu akan bisa kita capai," terangnya.

Wapres juga berpesan kepada Presidium Majelis Nasional KAHMI yang baru terpilih 2017-2022 agar dapat membuat KAHMI besar dan bersatu. "Saya lihat dari daftar yang terpilih, alhamdulillah semuanya bhineka tunggal ika, berasal dari berbagai daerah, berbagai universitas. Saya harapkan presidium dapat memajukan Kahmi dengan sepenuh hati," katanya.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar