TKN Sebut Tak Ada Narasi Menarik dari Prabowo-Sandi

TKN Sebut Tak Ada Narasi Menarik dari Prabowo-Sandi

(FOTO: Istimewa)

(rel/rzd)

Jumat, 1 Februari 2019 | 18:44

Analisadaily (Jakarta) - Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menyebut tidak ada narasi menarik dari pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Karena itu wajar elektabilitas Prabowo-Sandi selalu tertinggal dari Jokowi-Ma’ruf.

“Selama model kampanye dan narasi yang dibangun seperi itu-itu saja, maka tidak akan banyak perubahan. Kedua, masyarakat sudah memahami siapa mereka sesungguhnya,” kata Wakil Ketua TKN Joko Widodo-Maruf Amin, Abdul Kadir Karding, Jumat (1/2).

Rabu (30/1) lalu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei terbaru mengenai elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden pascadebat pertama pilpres 2019 pada 17 Januari 2019. Hasilnya, baik elektabilitas Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tidak berubah signifikan, tetapi Jokowi tetap memimpin.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf pascadebat sebesar 54,8 persen, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31 persen, naik sedikit dari elektabilitas per Desember 2018 sebesar 30,6 persen. Meski demikian, dari enam dimensi debat capres-cawapres, Jokowi-Ma'ruf disebut menang di 5 dimensi, sedangkan Prabowo-Sandi menang di 1 dimensi. Alhasil skor Jokowi vs Prabowo adalah 5:1.

Karding menjelaskan, survei LSI sangat masuk akal lantaran Jokowi memang lebih unggul disbanding Prabowo. (Prabowo) berbeda dengan Pak jokowi yang menperlihatkan bukti dan komitmen yang kuat untuk membangun dan memperbaiki Indonesia.

Pengamat Politik

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, mengamini jika Jokowi lebih unggul di debat perdana. Adi menilai dari aspek pengusaan persoalan Jokowi lebih baik ketimbang Prabowo.

“Prabowo ingin tampil manis tapi tidak tahu apa-apa. Banyak out off contexst jawabannya. Pak  Prabowo kemarin hanya ingin terlihat manis, tidak kelihatan sangar, tapi sering kali pemaparannya keluar dari konteks. Untungnya beberapa kali diselamatkan Sandi,” ujarnya.

Kendati demikian, Adi mengatakan, agak terburu-buru bila menilai peningkatan elektabilitas hanya dari debat pertama. Sebab, harus juga diakui bahwa debat perdana lalu tidak cukup memuaskan masyarakat, terutama yang belum menentukan pilihan (undecided voter).

“Kalau ukurannya debat saya kira terlampau buru-buru ya, apalagi debat pertama ini dilihat agak sedikit hambar, normatif dan kurang greget. Karena ekspektasi rakyat untuk melihat tanding ulang dua jago ini kan luar biasa. Ini semacam el classico tentu tackle-tackle kerasnya itu dinanti tapu itu tidak terjadi,” jelas Adi.

Ke depan dia menyarankan seluruh kandidat untuk tampil all out. “Di debat kedua Jokowi dan Pak Prabowo harus tampil orisinil aja. Jokowi apa adanya sampaikan visi misinya,  kalau mau nyerang ya nyerang aja enggak perlu sungkan. Gak perlu takut karena elektabilitas. Begitupun Prabowo,” sambung dia.

Dia menambahkan, melihat Prabowo di debat pertama masyarakat tidak melihat Prabowo yang sesungguhnya.

“Prabowo itu bukan style-nya lunak. Prabowo enggak stylis kalau dia ngomongnya tidak berapi-api. Keliatan sekali dia terlalu menahan diri banget, ketika dia ditanya tentang caleg eks koruptor di gerindra, ketika moderator bilang tidak boleh nanggapin. Keliatan banget dia joget-joget. Itu ekspresi kemarahan yang terpendam sebetulnya. Mestinya dia langsung potong aja moderator. Ini debat kok ini panggung mereka. Moderator hanya mengatur lalu lintas saja,” bebernya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar