Tirta Sibayakindo Raih Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Tirta Sibayakindo Raih Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Stakeholder Relations Manager Tirta Sibayakindo, Sahat Esron Siringoringo (kiri) menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diberikan Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, Hudoyo (kanan).

(hers/rzd)

Kamis, 27 Juni 2019 | 16:44

Analisadaily (Medan) - Tirta Sibayakindo (Pabrik AQUA Berastagi) meraih penghargaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia atas upaya konservasi di kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba melalui penanaman pohon Macadamia.

Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Hudoyo, dan diterima oleh Sahat Esron Siringoringo, Stakeholder Relations Manager Tirta Sibayakindo.

Penyerahan penghargaan dilaksanakan bertepatan dengan peluncuran program Pengembangan Tanaman Macadamia bertempat di Persemaian Permanen Huta Ginjang, Kabupaten Tapanuli Utara oleh Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Penyerahan dirangkaikan dengan Peringatan Hari Penanggulang an Degradasi Lahan Sedunia (World Day to Combat Desertification). Acara dihadiri Gubsu Edy Rahmayadi bersama semua bupati di kawasan Danau Toba, Menteri Koordinator Perekonomian RI Darmin Nasution, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Hudoyo mengatakan, program yang diluncurkan ini merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi lahan kritis. Permasalahan dalam penanganan lahan kritis adalah pilihan tanaman yang cocok untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).

Pilihan terhadap Macadamia adalah pilihan tepat untuk kawasan Tapanuli Utara. Macadamia merupakan tanaman lokal yang sudah dikenal masyarakat di kawasan Danau Toba dan sesuai untuk suhu rendah dan dataran tinggi, sehingga cocok untuk penanganan hulu DAS.

“Hasilnya pun berupa kacang Macadamia dapat menjadi produk unggulan kuliner kawasan Danau Toba,” kata Hudoyo, Kamis (27/7).

Dengan demikian masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi lebih dari lahan mereka yang ditanami Macadamia. Masyarakat dapat memperoleh penghasilan kotor sekitar Rp 200 juta sampai Rp 1 miliar dari tiap hektar saat tanaman Macadamia berusia lebih dari 6 tahun.

“Bahkan Macadamia mempunyai prospek ekspor. Hal-hal tersebut di atas merupakan hasil penelitian Balai Litbang Aek Nauli yang telah melakukan penelitian Macadamia dan mempunyai kebun percobaan sejak tahun 2009,” terangnya.

(Istimewa)

(Istimewa)

Penyebabnya Banyak Faktor

Di Indonesia degradasi lahan diakibatkan oleh banyak faktor, yaitu pertambahan jumlah populasi manusia, kemiskinan, bencana alam, penggunaan dan pengelolaan lahan yang tidak tepat, penggunaan bahan kimia yang berlebihan, proses reklamasi dan rehabilitasi pasca tambang yang tidak dilakukan dengan kaidah dan aturan yang berlaku.

Penanganan lahan kritis di Indonesia perlu dicarikan solusi dan dikerjakan secara bersama-sama. Oleh karena itu penanganan lahan kritis di kawasan Danau Toba yang dilakukan melalui pengembangan dan penanaman Macadamia dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak; yaitu pemerintah, BUMN, BUMD, BUMS, dan masyarakat.

Pemerintah RI dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki perhatian khusus tentang penanggulangan degradasi lahan. Tahun 2018, terdapat 14,01 juta hektare lahan kritis di Indonesia.

Karenanya, KLHK menargetkan rehabilitasi hutan dan lahan pada tahun 2019 seluas 207.000 hektare, yang akan difokuskan pada 15 DAS prioritas, 15 danau prioritas , dan 65 bendungan dan daerah rawan bencana.

Danone-AQUA melalui Pabrik AQUA Berastagi Tirta Sibayakindo berpartisipasi untuk mengembangkan tanaman Macadamia di daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba guna mendukung program pemerintah dalam hal rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan tersebut.

“Kami bekerja sama dengan Cipta Fondasi Komunitas telah melakukan konservasi di kawasan Danau Toba sejak tahun 2017 dengan menanam 31.500 pohon di atas lahan seluas 15 hektare,” kata Esron.

“Kebanyakan yang ditanam adalah pohon Kopi, sedangkan Macadamia itu merupakan tanaman pelindung untuk Kopi. Setiap pohon yang kami tanam diberi identitas, sehingga memudahkan dalam pemantauan terhadap pertumbuhan dan perawatan pohon-pohon itu,” sambungnya.

Program Konservasi Danau Toba yang dilakukan Danone-AQUA ini disesuaikan dengan kondisi alam sekitar Danau Toba dan berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat. Budidaya tanaman kopi sangat cocok untuk memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat.

“Untuk mendukung hal itu para petani yang terlibat dalam program konservasi Danone-AQUA ini juga beternak lebah madu untuk meningkatkan penghasilan mereka,” sebut Esron.

Budidaya kopi dan ternak lebah madu itu dilakukan secara terintegrasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pertanian dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Ditambah lagi dengan manfaat ekonomis yang dapat diperoleh dari pohon Macadamia.

(hers/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar