Tingkatkan Daya Saing, Petani Jeruk Peroleh Pelatihan

Tingkatkan Daya Saing, Petani Jeruk Peroleh Pelatihan

Para petani jeruk memperoleh pelatihan untuk meningkatkan SDM dan daya saing

(rzp/eal)

Kamis, 9 Juni 2016 | 16:02

Analisadaily (Sumut) - Pada awal tahun 90-an hingga akhir tahun 1997, semua orang mengenal Jeruk Pantai Buaya karena masa itu adalah masa keemasannya. Semua petani jeruk di Desa Bukit Mas merasakan manfaat luar biasa karena menanam jeruk.

Namun masa keemasan tersebut telah berakhir karena virus menyerang semua pohon jeruk di desa tersebut. Beberapa petani memilih untuk pergi merantau ke luar daerah dan sebagian besar bertahan dan mencoba menanam tanaman lain seperti kelapa sawit dan karet.

Hal itu dilakukan dengan harapan dapat segera memulihkan kondisi perekonomian mereka pasca serangan virus pada tanaman jeruk mereka. Kondisi tersebut berlangsung selama lebih kurang 15 tahun hingga pertengahan tahun 2015.

Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) melalui program Community Agroforestry Reforestation and Education (CARE) Whitley Fund for Nature melaksanakan Program Pendampingan terhadap Petani Jeruk dalam bentuk penerapan pertanian organik dan kebun campur Jeruk serta Gaharu. Program berlangsung dari Juli 2015 hingga Mei 2016.

Melalui kegiatan ini petani diberikan pemahaman mengenai cara bercocok tanam secara organik, sasarannya adalah untuk mengurangi penggunaan bahan kimia yang dapat merusak kesuburan tanah, serta mengurangi pengeluaran petani untuk membeli pupuk dan semua keperluan yang berbasiskan kimiawi, dan akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

Program ini juga telah memberi bantuan bibit jeruk sebanyak 800 batang dan bibit pohon gaharu 250 batang kepada sekitar 50 orang anggota kelompok tani di desa tersebut. Bantuan bibit itu untuk memberi contoh bagaimana kebun campur dapat memberi manfaat lebih, karena panen dapat dilakukan sepanjang tahun dengan tanaman yang berbeda. Apalagi pohon gaharu memiliki harga yang lumayan tinggi di pasar internasional.

Para petani jeruk memperoleh pelatihan untuk meningkatkan SDM dan daya saing

Para petani jeruk memperoleh pelatihan untuk meningkatkan SDM dan daya saing

"Kami dan khususnya saya sangat terbantu dan dapat lebih memahami bagaimana cara bertani organik ini dapat mengurangi biaya pembelian pupuk dan pestisida. Kami juga jelas mendapatkan penghasilan yang lebih dengan pengeluaran yang lebih sedikit," kata Ketua Kelompok Tani MB. Sinuan, Pak Suaib, Kamis (9/6).

Pak Suaib juga tidak segan untuk berbagi ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan dari YOSL OIC, "Saya juga kadang di tanyai sama warga ngajari gimana caranya bikin bibit okulasi jeruk, ya saya kasih tau aja, namanya juga nolong kawan," ucapnya.

Sejak Program CARE dari Whitley Fund for Nature dilaksanakan di Dusun Aras Napal Kanan dan Dusun Aras Napal Kiri pada Juli 2015 hingga berakhir pada bulan Mei 2016, sekitar 40 hingga 50 orang petani di kedua dusun secara perlahan namun pasti mengubah cara mereka bercocok tanam. Kebun campur juga telah mereka terapkan di lahan.

Selain program pertanian organik dan kebun campur, program CARE juga melakukan kegiatan restorasi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang terdegradasi di sekitar Desa Bukit Mas. Program restorasi ini juga melibatkan kelompok tani dari kedua dusun ini, dimana selama lebih kurang 10 bulan terlibat dalam pembuatan nursery dan mempersiapkan bibit yang merupakan akan digunakan untuk program restorasi.

(rzp/eal)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar