Terbukti Melanggar UU ITE, Dosen USU Dituntut 1 Tahun Penjara

Terbukti Melanggar UU ITE, Dosen USU Dituntut 1 Tahun Penjara

Persidangan kasus ujaran kebencian di PN Medan, Senin (22/4).

(jw/rzd)

Senin, 22 April 2019 | 19:07

Analisadaily (Medan) - Terbukti melanggar UU ITE karena postingannya di media sosial, Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) bernama Himma Dewiyana Lubis (45) dituntut satu tahun penjara dan membayar denda sebesar Rp10 juta subsider 3 bulan kurungan.

"Terdakwa terbukti bersalah diancam Pidana melanggar Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Menimbulkan rasa kebencian terhadap suku dan agama," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumut, Tiorida Juliana Hutagaol, di hadapan Hakim Ketua, Riana Pohan, di ruang Cakra III PN Medan, Senin (22/4).

Usai mendengar keterangan JPU, kemudian oleh hakim ketua sidang ditunda hingga sepekan mendatang untuk mendengarkan nota pembelaan dari terdakwa. "Untuk selanjutnya sidang kita tunda sepekan ke depan," ucap Riana.

Usai sidang, Tim Bantuan Hukum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Medan, Rina Melati Sitompul menyebutkan, tuntutan terlalu berlebihan bagi kliennya.

"Kalau kami melihat agak berlebihan, yang didakwakan itu tidak ada korbannnya. Di sini itu pelapornya polisi, siapa di sini yang dikategorikan dirugikan siapa sih yang ditimbulkan kebencian. Pihak mana, suku mana, agama mana, yang kita temukan," terangnya.

Untuk diketahui bahwa dalam dakwaan disebutkan, Himma diamankan setelah menulis kalimat di Facebook-nya "Skenario pengalihan yang sempurna #2019GantiPresiden" dan "Ini dia pemicunya Sodara, Kitab Al-Quran dibuang".

Status itu ditulis di rumahnya, di Komplek Johor Permai, Gedung Johor, Medan Johor, Kota Medan. Terdakwa membuat dan mengetik status itu menggunakan Iphone 6S warna silver. Terdakwa mengaku tidak ada orang lain yang menyuruhnya untuk membuat postingan itu.

Dalam dakwaan itu disebutkan, terdakwa membuat caption/tulisan di akun Facebook atas nama Himma Dewiyana karena merasa kesal, jengkel, dan sakit hati atas kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. Di era Jokowi Himma merasa harga sembilan bahan pokok (sembako), tarif listrik, dan semua keperluan/kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan.

"Padahal terdakwa Himma sebelumnya sangat mengagung-agungkan Jokowi sebelum menjadi Presiden RI. Sebab janji-janji Presiden Jokowi pada saat kampanye pemilihan Presiden RI tahun 2014 sangat mendukung terdakwa dalam kehidupan sehari-hari," ungkap JPU Tiorida pada saat pembacaan dakwaan yang digelar pada Januari 2019 silam.

Tulisan Himma tersebut lantas viral di media sosial dan akhirnya sampai ke personel Subdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Sumut pada Mei tahun lalu. Penyelidikan dilakukan, Himma pun diamankan dan ditahan.

"Akibat dari perbuatan terdakwa yang membuat postingan di dalam akun Facebook Himma Dewiyana akan menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu," terang Tiorida.

Atas perbuatannya, lanjut JPU, terdakwa didakwa telah melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

(jw/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar