Terbukti Aniaya Jurnalis, Prada Kiren Dituntut 6 Bulan Penjara

Terbukti Aniaya Jurnalis, Prada Kiren Dituntut 6 Bulan Penjara

Sidang kasus penganiayaan jurnalis oleh personil TNI AU di Pengadilan Militer I-02 Medan, Jalan Ngumban Surbakti, Kamis (7/12)

(jw/eal)

Kamis, 7 Desember 2017 | 19:31

Analisadaily (Medan) - Sidang lanjutan kasus penganiayaan jurnalis dengan korban Array A. Argus yang dilakukan oleh personil TNI AU, Prada Kiren Singh, kembali digelar di Pengadilan Militer I-02 Medan, Jalan Ngumban Surbakti, Kamis (7/12).

Dalam sidang tersebut, pelaku dituntut enam bulan penjara oleh Oditur Militer, Mayor Rio Panjaitan. Kiren dinyatakan bersalah melakukan penganiayaan terhadap Array. Dia pun dijerat dengan pasal 351 KUHPidana sebagaimana dakwaan oditur militer.

"Terdakwa melakukan penganiayaan terhadap jurnalis bernama Array dengan cara menendang. Tindakan itu dilakukan saat kericuhan sengketa lahan di Sari Rejo Polonia pada 15 Agustus 2016 silam," kata Rio di hadapan Ketua Majelis Hakim, Letnan Kolonel Chairul.

Rio menjelaskan, tindak kekerasan yang dilakukan Kiren juga diakuinya saat persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Sebab itu, Kiren layak dihukum dengan enam bulan penjara.

Mendengar tuntutan oditur, penasehat hukum Kiren langsung membacakan pledoi-nya di hadapan hakim. Dalam pembelaannya, Kiren beralasan tindakan kekerasan itu dilakukan karena dirinya bertugas dan menjalankan perintah untuk mengamankan situasi kerusuhan di Sari Rejo antara TNI AU dengan warga.

Majelis hakim yang mendengar pembelaan itu kemudian menunda sidang. Rencananya, sidang putusan berikutnya akan digelar pada Senin (11/12) mendatang.

"Sudah kamu dengar tuntutannya kan. Kamu dituntut enam bulan penjara," kata hakim.

Mendapat pertanyaan itu, Kiren hanya mengangguk. Ia mengaku menyerahkan sepenuhnya langkah hukum tersebut pada pengacaranya.

Menyikapi persoalan ini, Ketua Divisi Jaringan LBH Medan, Aidil A Aditya selaku penasehat hukum Array sangat menyayangkan tuntutan yang dianggap ringan tersebut.

Aidil mengungkapkan seharusnya oditur militer turut menjerat terdakwa Kiren dengan pasal 170 KUHPidana.

"Penganiayaan yang dilakukan Kiren dan (Pratu) Rommel kan secara bersama-sama. Kenapa tidak dijerat pasal 170-nya. Kenapa juga berkas kasus ini harus dipisah," ungkap Aidil.

Menurut Aidil, harusnya oditur militer jeli melihat perkara ini. Sebab dalam proses persidangan, kedua terdakwa sudah mengaku bahwa penganiayaan terhadap Array dilakukan secara bersama-sama sehingga korban mengalami luka-luka.

"Harusnya Kiren dan Rommel dituntut dengan hukuman yang setimpal. Peristiwa penganiayaan ini jelas dilakukan secara bersama-sama," tegasnya.

"Kami berharap majelis hakim yang menyidangkan perkara ini nantinya memberikan hukuman yang setimpal terhadap Kiren dan berharap sidang ini benar-benar memberikan putusan yang adil bagi korban," pungkas Aidil.

Selama persidangan, Kiren dan Rommel mengaku sama-sama menganiaya Array saat korban melakukan peliputan di Sari Rejo, Medan Polonia pada 15 Agustus 2016 silam.

Ketika Kiren diminta memberikan keterangan, penganiayaan itu dilakukannya karena alasan emosi. Ia menendang Array di bagian perut. Namun menurut pengakuan korban, Kiren juga memukul bagian rahang kanannya.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar