Tanggapan Ernest Melihat Karya Seninya Dirusak

Tanggapan Ernest Melihat Karya Seninya Dirusak

Mural yang rusak di Jalan Perdana Medan, Rabu (7/3)

(jw/eal)

Rabu, 7 Maret 2018 | 14:23

Analisadaily (Medan) - Lebih kurang satu tahun, karya seni mural yang menggambarkan tiga orang anak bersama seekor Orangutan Sumatera berada di atas becak bermotor (betor) di Jalan Perdana, Medan, kini hanya tinggal kenangan.

Hasil karya seniman dunia yang berasal dari Lithuania, Ernest Zacharevic, itu dirusak orang tak bertanggung jawab. Kerangka betor yang menempel di salah satu gedung tua tempat mural tersebut hilang.

Mendengar hilangnya properti mural hasil karyanya, Ernest menanggapinya dengan santai.

"Kerusakan karya seni di tempat publik itu hal yang wajar. Saya terkesan dengan reaksi publik yang cukup besar atas peristiwa rusaknya karya saya," kata Ernest, Rabu (7/3).

Salah satu mural karya Ernest di Kota Medan

Salah satu mural karya Ernest di Kota Medan

Sementara itu, Ketua Apindo Medan, Rusmin Lawin, yang membawa Ernest ke Medan setahun lalu untuk membuat mural di beberapa titik Kota Medan juga menanggapi hal tersebut. Dirinya merasa kecewa atas rusaknya karya seni dunia tersebut.

"Sudah pasti kesal. Karena kemajuan Kota Medan ini butuh kebersamaan dan masyarakat harus memulainya," ucap Rusmin.

Rusmin juga membandingkan kondisi mural yang ada di luar negeri dengan Kota Medan. Selama dirinya bepergian, banyak karya seni mural yang dijaga dengan baik di negara-negara yang pernah disinggahinya.

"Seharusnya karya seni dunia itu bisa terjaga dengan baik di Medan kita. Padahal kalau kota kita ini indah, bisa mendongkrak pariwisata. Kalau di sana itu masyarakat menjaga, pemerintah dan aparat penegak hukum ikut menjaga," ungkapnya.

Rusmin juga menambahkan bahwa seniman asal Lithuania tersebut direncanakan akan kembali lagi ke Kota Medan pada akhir Maret 2018 untuk membuat karya baru.

Salah satu mural karya Ernest di Kota Medan

Salah satu mural karya Ernest di Kota Medan

"Saya akan bicarakan ke dia apakah akan membuat seni yang permanen saja, tanpa properti," tambahnya.

Untuk diketahui, mural karya Ernest tidak hanya berada di Jalan Perdana. Sebab, dia juga pernah membuat karyanya di Jalan Multatuli dengan potret seorang nenek-nenek. Selain itu dia juga membuat mural soal pembakaran hutan yang terletak di Jalan Juanda, dan seorang anak perempuan yang duduk di atas seekor gajah bergambar uang seratus ribu rupiah di Jalan Sisingamangaraja Medan.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar