Surat Pencatatan Inventarisasi KIK-EBT Diberikan Kepada 3 Kebudayaan Nias

Surat Pencatatan Inventarisasi KIK-EBT Diberikan Kepada 3 Kebudayaan Nias

Penyerahan Surat Pencatatan Inventarisasi KIK-EBT oleh Menteri Hukum dan HAM kepada Wakil Gubernur Sumatera Utara

(rzp/eal)

Jumat, 15 Maret 2019 | 17:35

Analisadaily (Jakarta) - Tiga kebudayaan tradisional dari Pulau Nias di Sumatera Utara, Faluaya (Tari Perang), Tari Maena dan Fahombo Batu (Lombat Batu) menerima Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK)-Ekspresi Budaya Tradisional (EBT).

Surat Pencatatan Inventarisasi KIK-EBT diperoleh dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Surat Pencatatan Inventarisasi KIK-EBT diterima langsung Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah bersama Bupati Nias Selatan, Hilarius Duha.

Menkumham, Yasonna Laoly menjelaskan, inventarisasi KIK ini bertujuan untuk memperkuat kedaulatan Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia. Juga memperkuat bukti kepemilikan atas Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia.

"Bahan untuk mempromosikan budaya Indonesia dan kemudahan akses nilai-nilai kesejarahan, kebudayaan, pengetahuan tradisional dan sumber daya genetik Indonesia," kata Yasonna di Jakarta, Jumat (15/3).

Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo, jika kebudayaan Indonesia menjadi fokus kegiatan dalam perekonomian, Indonesia akan memiliki banyak kesempatan untuk lebih maju.

Menkumham menuturkan, Indonesia memiliki banyak KIK yang mencakup pengetahuan tradisional, sumber daya genetik, potensi indikasi geografis, dan ekspresi budaya tradisional untuk dilakukan inventarisasi dan dimasukan dalam pusat data kekayaan intelektual komunal.

Semisal, lanjutnya, tiga kebudayaan tradisional dari Pulau Nias, Faluaya (Tari Perang), Tari Maena dan Fahombo Batu (Lombat Batu). Surat Pencatatan Inventarisasi KIK yang diberikan masuk dalam kategori EBT.

Faluaya (Tari Perang) merupakan salah satu tarian daerah yang ada di Kabupaten Nias Selatan, yang dilengkapi dengan peralatan seperti Baluse (tameng), Toho (tombak), Tologu (pedang) dan Kalabubu (sejenis kalung prajurit).

"Faluaya dulunya dilakukan sebelum dan sesudah kembalinya prajurit dari medan perang," ucapnya.

Pulau Nias Tuan Rumah Sail Indonesia 2019

Di sela-sela acara pemberian Surat Pencatatan Inventarisasi KIK-EBT bagi tiga kebudayaan tradisional dari Pulau Nias, Yasonna Laoly menyampaikan bahwa Pulau Nias menjadi kandidat tuan rumah Sail Indonesia 2019. Bagi pemerintah Provinsi Sumut, momen ini dijadikan untuk membangun perekonomian daerah di Pulau Nias.

Sail Indonesia merupakan ajang tahunan wisata bahari yang telah diselenggarakan sejak 2009 oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Adapun menunjuk Pulau Nias sebagai tuan rumah Sail Indonesia pada 2019, maka salah satu hal yang dapat menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, yaitu dengan menyuguhkan keunikan ekspresi budaya tradisional di Nias.

"Yang dijaga secara turun-temurun," tandas Yasonna.

(rzp/eal)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar