Stefani Mei Reuni Dengan Atlet Korsel di Asian Games

Stefani Mei Reuni Dengan Atlet Korsel di Asian Games

Stefani Oktarina alias Stefani Mei, relawan Asian Games 2018 dari Kota Medan, Sumatera Utara

Senin, 3 September 2018 | 17:52

Analisadaily (Medan) - Perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang telah berakhir, Minggu 2 September. Kesan dan kenangan dari berbagai momen yang tersaji sejak acara pembukaan hingga acara penutupan, akan tetap 'hidup' di benak banyak orang.

Apalagi, yang terlibat langsung dengan berbagai peran di pesta olahraga terbesar Asia itu, termasuk bagi Stefani Oktarina alias Stefani Mei, relawan Asian Games 2018 dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Sejak bertugas sebagai relawan pada 14 Agustus lalu, ia mengaku banyak mendapat pengalaman, yaitu bisa merayakan reuni dengan atlet bola basket putri Korea Selatan, setelah pertemuan pertama di Medan dalam Kejuaraan Bola Basket FIBA Asia U16 Wanita 2015.

Saat Kejuaraan di Medan, Stefani terlibat sebagai LO, mendampingi tim basket Korea Selatan. Di Asian Games 2018, ia tidak sengaja bertemu di bus dengan salah satu dari atlet Korea Selatan yang ikut kejuaraan basket di Medan.

"Saat saya sapa, ternyata dia masih ingat wajah saya. Senang banget bisa jumpa lagi dengan dia di Asian Games," kata Stefani, Senin (3/9).

Selain reuni, masih kata Stefani, acara pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta pada 18 Agustus lalu juga meninggalkan kesan yang mendalam.

"Keren dan wow banget acaranya. Beruntung saya bisa menyaksikan langsung. Paling berkesan pas upacara pembukaan saya sempat diwawancara televisi Tiongkok, CCTV," ungkapnya.

Dikira Orang Korea

Stefani mengaku beruntung, berkat kemampuannya berbahasa Korea, bisa mendapat peran lebih luas selama Asian Games 2018. Bukan hanya bidang transportasi tetapi juga dipercaya menjadi LO untuk tim-tim dari Negeri Ginseng tersebut.

Banyak tim Korea Selatan dari cabor berbeda-beda memintanya mendampingi.

"Berdasarkan penugasan, sejak awal ditempatkan di bidang transportasi. Karena di lapangan sering terjadi kendala bahasa, saya sering diminta mendampingi mereka," ungkap gadis yang menguasai tiga bahasa asing ini, bahasa Korea, Inggris, dan Mandarin.

"Mereka bahkan mengira saya orang Korea. Karena kata mereka saat saya berbicara dalam bahasa Korea, logatnya sama. Mereka terkejut begitu tahu saya orang Indonesia," kenang Stefani.

Selama bertugas sebagai relawan, Stefani lebih banyak mendampingi atlet dari Korea Selatan. Tifak jarang juga diminta mendampingi kontingen Taiwan. Setiap hari dia bekerja dalam dua shift. Pertama mulai jam 6 pagi hingga jam 2 siang. Shift sore mulai jam 2 siang hingga jam 11 malam.

Modal Nekat

Menariknya, kemampuan berkomunikasi dalam tiga bahasa asing yaitu Korea, Inggris dan Mandarin yang dimilikinya saat ini bukan hasil karena mengikuti pendidikan bahasa atau kursus. Semuanya ia pelajari otodidak. Minatnya belajar bahasa memang tinggi.

"Buat saya l, bahasa membantu saya mempelajari banyak hal dan berinteraksi dengan bangsa lain. Saya suka bertemu dengan orang baru dan mengunjungi tempat baru," kata gadis yang saat ini bekerja dengan status magang bakti di salah satu Kantor Cabang Pembantu BCA di Kota Medan ini.

Meski telah menguasai tiga bahasa asing yaitu Korea, Inggris dan Mandarin, namun Stefani masih saja merasa kurang. Dalam waktu dekat dia berencana untuk mempelajari dan menguasai bahasa asing keempat yaitu bahasa Jepang.

"Saya punya mimpi bisa menjadi relawan di ajang olimpiade," ujarnya.

Stefani merasa bersyukur, keinginannya menjadi relawan pada Asian Games 2018 didukung penuh sang ayah, Hendar Tusmin, wartawan di Harian Analisa, dan sang ibu, serta pimpinan di perusahaan tempat dia menjalani magang bakti saat ini.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar