Sidang Lanjutan, Prada Kiren Akui Aniaya Jurnalis

Sidang Lanjutan, Prada Kiren Akui Aniaya Jurnalis

Prada Kiren Singh menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Militer I-02 Medan, Jalan Ngumban Surbakti, Medan, Selasa (28/11) sore

(jw/eal)

Selasa, 28 November 2017 | 18:20

Analisadaily (Medan) - Sidang lanjutan kasus penganiayaan seorang jurnalis, Array A. Argus, oleh prajurit TNI AU Lanud Soewondo berlangsung di Pengadilan Militer I-02 Medan, Jalan Ngumban Surbakti, Medan, Selasa (28/11) sore.

Dalam sidang tersebut, prajurit TNI AU Lanud Soewondo, Prada Kiren Singh, yang melakukan penganiayaan terhadap Array mengakui perbuatannya.

Kiren yang didampingi penasehat hukumnya mengaku menendang Array hingga terjatuh. Ia mengatakan, tindakan itu dilakukan karena emosi.

Menurut Kiren, setelah menganiaya Array bersama Pratu Rommel Sihombing, ia pun pergi meninggalkan lokasi yang berada tak jauh dari persimpangan Jalan Teratai, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, 15 Agustus 2016 lalu.

"Siap majelis, memang saya ada menendang saudara Array. Saya menendang saksi karena emosi," kata Kiren di hadapan Ketua Majelis Hakim, Letkol Chairul.

Mendengar penjelasan dari Kiren, hakim anggota, Letkol Lunggun M Hutabarat, sempat mencecar terdakwa. Dirinya mengatakan tidak seharusnya Kiren melakukan penganiayaan. Sebab, institusi TNI tidak pernah mengajarkan prajurit bertindak arogan. Jika pun keberadaan jurnalis di lokasi sengketa lahan tidak tepat, seharusnya TNI mengamankan saja tanpa melakukan penganiayaan.

"Jangan mentang-mentang kamu TNI, kamu arogan! Apa rupanya yang kamu pelajari selama pendidikan? Kan tidak ada diajarkan menganiaya masyarakat," tegas Lunggun.

Lunggun juga mengatakan bahwa institusi TNI tercoreng akibat ulah Kiren. Menurutnya, tindak kekerasan yang dilakukan Kiren dan Rommel tidak patut dicontoh oleh anggota TNI lainnya.

"Seharusnya tindak kekerasan ini bisa dihindari. Apa ada atasan mu yang memerintah seperti itu? Kenapa kamu lakukan," tanya Lunggun.

Mendengar hal itu, Kiren terdiam. Ia beberapa kali menundukkan kepalanya. Dalam berkas acara pemeriksaan (BAP) saksi korban, Kiren juga disebut memukul rajangan kanan Array.

Ditanya mengenai hal itu, Kiren berdalih tidak melakukannya. Ketika ditanya hakim siapa lagi teman-temannya yang terlibat, Kiren geleng kepala. Ia melindungi teman-temannya yang ikut serta memukul, menendang, bahkan menginjak-injak Array yang menjadi korban penganiayaan.

"Saya tidak lihat yang lainnya. Setelah saya menendang saksi, saya pergi karena disuruh Provost," katanya.

Sementara itu, Array yang dimintai keterangannya oleh hakim bersikukuh menyebut Kiren sempat memukul rahang kanannya. Karena tindakan Kiren, anggota TNI AU lainnya ikut terpancing melakukan penganiayaan. Akibat penganiayaan itu, menurut Array tubuhnya lebam-lebam.

"Terdakwa ini yang lebih dulu memukul saya. Saya juga tidak tahu apa alasan terdakwa memukul saya. Padahal saat itu, saya sudah menunjukkan kartu pers saat peliputan," ungkap Array.

Menurut Array, selama kasus tersebut diproses, dirinya menduga ada permainan hasil visum oleh Rumah Sakit Abdul Malik Medan. Rumah sakit milik TNI AU itu disinyalir melakukan manipulasi hasil visum milik Array.

Prada Kiren Singh menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Militer I-02 Medan, Jalan Ngumban Surbakti, Medan, Selasa (28/11) sore

Prada Kiren Singh menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Militer I-02 Medan, Jalan Ngumban Surbakti, Medan, Selasa (28/11) sore

Harusnya, kata Array, agar hasil visum objektif, penyidik POM menyarankan saksi korban melakukan visum di rumah sakit lain agar hasilnya objektif.

"Saya sempat visum di tiga rumah sakit berbeda, karena tidak ada rujukan dari polisi, ketiga rumah sakit ini tidak berani melakukan visum. Setelah saya melapor ke POM, kemudian diarahkan ke Rumah Sakit Abdul Malik. Waktu itu masih ada bekas lebam di tubuh saya. Tapi ketika hasilnya keluar, visum tidak diberikan pada saya dan belakangan dijelaskan bahwa tidak ada lebam di tubuh saya," ungkap Array.

Array menjelaskan, ketika tubuhnya masih lebam-lebam, pihak LBH Medan yang mendampingi dirinya juga mengetahui hal itu. Sehingga muncul tanda tanya, kenapa hasil visum di RS Abdul Malik menyatakan Array tidak mengalami luka sedikitpun. Bahkan, barang bukti seperti potongan kursi plastik yang digunakan untuk menganiaya Array tidak dijadikan bukti oleh oditur militer.

Ketua Divisi Jaringan LBH Medan, Aidil A Aditya selaku penasehat hukum korban menduga Kiren berbohong saat memberikan keterangan. Kata Aidil, saat menjadi saksi terhadap terdakwa Pratu Rommel, Kiren sempat mengakui ada memukul wajah Array. Belakangan, keterangan Kiren berbeda dari persidangan sebelumnya.

"Saya ingat betul waktu itu terdakwa telah mengakui turut pula memukul wajah Array. Namun pada sidang kali ini, keterangan itu malah berbeda," ungkap Aidil.

Kendati demikian, Aidil meminta hakim bertindak objektif dalam memberikan putusan nantinya.

"Pada persidangan sebelumnya yang digelar terbuka untuk umum, terdakwa Kiren bersama-sama dengan Pratu Rommel mengaku ada memukul Array. Sehingga unsur secara bersama-sama terpenuhi dan harusnya terdakwa ini dijerat pasal 170," sambung Aidil.

Keterangan Kiren dan Rommel ada memukul Array juga dikuatkan dengan keterangan Provost bernama Prasetyo yang pernah dipanggil dan dimintai keterangannya oleh hakim.

"Ini menjadi catatan hakim, bahwa keterangan saksi dan apa yang dialaminya benar adanya. Dan hakim harus memberikan hukuman yang adil bagi para terdakwa," pungkas Aidil.

Untuk diketahui, kasus ini berawal saat Array dan temannya Teddy Akbari melakukan peliputan sengketa lahan di Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia pada 15 Agustus 2016 lalu.

Saat itu Array dianiaya beramai-ramai oleh anggota Lanud Soewondo dan Paskhas. Sebelum melakukan penganiayaan, puluhan personel TNI AU itu juga sempat merusak rumah warga.

Beberapa warga bahkan ditembak dengan peluru karet. Tak hanya merusak dan menganiaya warga, anggota TNI AU juga merusak kotak infaq masjid dan kejadian ini terekam kamera CCTV.

Kemudian, anggota TNI AU dengan beringas masuk ke dalam masjid tanpa membuka sepatu. Salah satu jamaah masjid dianiaya dengan tongkat kayu hingga mengalami retak tengkorak belakang. Dalam kasus ini, sebenarnya banyak warga dan jurnalis yang melapor ke POM. Namun hanya laporan milik Array yang diproses.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar