SHI: Bencana Alam di Madina Harus Jadi Perhatian Serius Pemerintah

SHI: Bencana Alam di Madina Harus Jadi Perhatian Serius Pemerintah

Sarekat Hijau Indonesia (SHI).

(rel/rzd)

Rabu, 17 Oktober 2018 | 16:46

Analisadaily (Medan) – Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara (Sumut) turut berduka cita atas bencana ekologis berupa banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah lokasi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), khususnya desa yang berada di Kecamatan Natal dan Ulu Pungkut pada 11 Oktober 2018.

Bencana banjir dan longsor telah merenggut korban jiwa tidak berdosa 17 orang. Sementara lainnya masih ada yang diyatakan hilang. Tidak hanya itu, banyak juga rumah dan kebun serta sawah masyarakat yang rusak.

“Bencana ini merupakan terdahsyat dalam 10 tahun terakhir yang melanda Madina baik dalam segi korban, frekuensi dan kerusakan infrastruktur. Sekali lagi kami keluarga besar SHI turut berduka sedalam-dalamnya, sekaligus berempati kepada para survivor yang selamat dari bencana,” kata Ketua SHI DPW Sumut, Hendra Hasibuan, Rabu (17/10).

Dikatakan Hendra, situasi ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten. Menurutnya, hal serupa jangan sapai terjadi terjadi di kemudian hari.

“Kami, SHI, mendesak pemerintah segera melakukan investigasi dan mengusut tuntas untuk mencari penyebab terjadinya bencana. Jika terbukti ada pihak-pihak yang punya andil, maka kami mendesak pemerintah dan aparat hukum untuk tidak segan menempuh jalur pidana lingkungan dan kehutanan,” ucapnya.

Sarekat Hijau Indonesia (SHI).

Sarekat Hijau Indonesia (SHI).

Ketua DPD SHI Mandailing Natal, Saleh Pulungan menyebut, secara tofografis daerah Madina berbukit dan bergelombang. Terdapat pula areal perkebunan sawit skala besar dan HPH (Hak Pengusahaan Hutan).

“Kami menduga ada keterkaitannya kehadiran industri tersebut, karena telah melakukan alih fungsi kawasan. Kemungkin bukan semata-mata karena faktor curah hujan. Semakin kuat dugaan kami jika bercermin dari bencana ekologis serupa yang melanda Kabupaten Garut pada September 2016 lalu. Hasil temuan menyebutkan, terdapat perkebunan yang tidak merawat dan mengonservasi lahannya dengan baik,” sebutnya.

Kepala Departemen Organisasi dan Kaderisasi SHI, Mukri Friatna menambahkan, pengurus pusat SHI memiliki perhatian serius terhadap bencana yang melanda Madina. Karena itu dirinya datang langsung datang dari Jakarta untuk melihat secara dekat lokasi bencana.

“Kehadiran kami kemari untuk mengosolidasi SHI wilayah agar bisa ikut berperan melakukan tindakan kemanusian pasca bencana, termasuk membentuk tim investigasi untuk menggali fakta penyebab terjadinya bencana banjir,” ungkapnya.

Sarekat Hijau Indonesia (SHI).

Sarekat Hijau Indonesia (SHI).

Mukri memastikan, jika dalam prosesnya nanti ada temuan terkait kontribusi pihak tertentu dalam terjadinya bencana banjir dan longsor, maka pihaknya akan berupaya menempuh jalur sesuai dengan peraturan perundangan yang berlalu.

“Tindakan kami sebagai usaha untuk menjawab pemenuhan hak konstitusi warga negara berupa hak untuk hidup dan selamat, termasuk hak keselamatan lingkungan hidup itu sendiri,” tegas Mukri. 

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar