Seorang Petani Temukan Tengkorak Anaknya di Kandang Buaya

Seorang Petani Temukan Tengkorak Anaknya di Kandang Buaya

Buaya (Pixabay)

Rabu, 3 Juli 2019 | 18:40

Analisadaily – Seorang petani di Kamboja menemukan tengkorak anak perempuannya di kandang buaya, setelah hewan buas tersebut memakan anaknya hidup-hidup.

Tragedi menimpa seorang petani Kamboja ketika putrinya tanpa sadar berkeliaran di peternakan buaya dan jatuh ke dalam kandang. Peristiwa ini terjadi pada Senin (1/7).

Menurut laporan media, dilansir dari Asia One, Rabu (3/7), korban berusia dua tahun diidentifikasi sebagai Rom Roath Neary dan di bawah asuhan ibunya, Nay Is, 32.

Ibunya dikatakan sibuk dengan bayi yang baru lahir dan tidak melihat putrinya berkeliaran. Sekembalinya ke rumah pada pukul 10 pagi, petani itu, Min Min, yang berusia 35 tahun, mulai mencari anaknya yang hilang, dan menemukan hal yang mengerikan di kandang buaya.

Dia menemukan reptil berebut jenazah putrinya di kandang. Yang tersisa hanyalah tengkorak yang dilucuti daging.

Video-video tentang Min yang mengambil tengkorak dan gambar Nay yang sedang bersedih menangis di atas jasad telah muncul di internet.

Polisi Kamboja juga telah mengkonfirmasi insiden itu dan penyelidikan sedang berlangsung.

Wakil kepala polisi Siem Reap, Kapten Chem Chamnan, mengatakan kepada Khmer Times: “Ayahnya hanya menemukan tengkoraknya di kandang buaya, tempat dia dibunuh oleh buaya.”

Petugas menjelaskan bahwa Rom telah meninggalkan rumah untuk bermain di sekitar peternakan buaya yang terletak di belakang rumah.

“Keluarga itu juga telah membangun pagar setinggi tiga meter di sekitar kandang, tetapi anak-anak yang cukup kecil masih bisa masuk melalui celah,” kata letnan polisi Och Sophen.

Para keluarga di Kamboja biasanya membiakkan buaya untuk diambil daging dan kulitnya, terutama di provinsi Siem Reap.

Oleh karena itu, pemerintah setempat mendesak keluarga untuk lebih berhati-hati menjaga anak-anak mereka dari binatang buas tersebut.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar