Rupiah Melemah, Eksportir Kakao Meraup Untung

Rupiah Melemah, Eksportir Kakao Meraup Untung

Pasar Biji Kakao. Pekerja merapikan tumpukan biji kakao saat penjemuran di Sejinjang, Jambi Timur, Jambi (FOTO ANTARA/Wahdi Septiawan)

Sabtu, 14 Maret 2015 | 15:56

Makassar (ANTARA News) - Sejumlah eksportir kakao di Sulawesi Selatan mendapatkan keuntungan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Bagi eksportir, kondisi seperti ini tentunya berdampak positif. Tapi mengenai harga biji kakao yang naik bukan hanya dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar, melainkan harga market internasional," ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Yusa Rasyid Ali, di Makassar, Sabtu.

Dia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan dampak positif pada neraca perdagangan.

"Meski banyak yang mempermasalahkan pelemahan rupiah, namun hal itu memberikan berkah bagi eksportir," katanya.

Yusa menjelaskan, ada dua faktor yang mempengaruhi harga biji kakao yakni menguatnya kurs dolar dan stabilnya harga di terminal kakao internasional.

Meski begitu, lanjut Yusa, memang dalam komoditi ekspor sangat diuntungkan dengan melemahnya rupiah. Tapi secara nasional, hal itu tentunya merugikan.

"Market internasional mempengaruhi harga pembelian apakah terhadap pedagang lokal, eksportir, maupun industri. Jadi saya pikir bukan semata-mata masalah harga, tapi bagaimana menjaga ketersediaan," katanya.

Yusa menuturkan, kondisi ekspor biji kakao beberapa bulan terakhir tidak seperti dulu lagi. Hal itu disebabkan banyaknya biji kakao yang diantarpulaukan.

"Belum lagi ada yang diolah setengah jadi di Makassar kemudian diekspor. Kalau hal ini tidak diantisipasi, kedepan biji kakao akan cenderung semakin menurun karena terserap industri dalam negeri," ujar Yusa.

Yusa menyebutkan, peningkatan kapasitas industri pengolahan kakao danp roduksi cenderung stagnan. Produksi kakao Sulsel per tahunnya, hanya mencapai 100 ribu ton, sementara kapasitas produksi bahan baku industri kakao nasional 600 ribu ton per tahun.

Meski demikian, menurut dia, kontribusi Sulsel terhadap pemenuhan bahan baku industri kakao nasional diakui masih cukup baik ketimbang daerah sentra penghasil kakao lainnya.

Dia berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel terus meningkatkan produksi serta luas lahan kakao yang bertujuan mendorong peningkatkan kontribusi Sulsel dalam pemenuhan bahan baku industri kakao nasional.

"Tapi masih diperlukan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan volume produksi kakao Sulsel," ucapnya.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar