Rupiah Masih Lanjutkan Tren Pelemahan

Rupiah Masih Lanjutkan Tren Pelemahan

Ilustrasi

(rel/rzd)

Jumat, 29 Juni 2018 | 11:37

Analisadaily (Medan) - Mata uang rupiah masih melanjutkan tren pelemahannya. Saat ini rupiah diperdagangkan di kisaran 14.430 per US Dolar. Padahal hari ini, Jumat (29/6), Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya guna mengimbangi kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika sebelumnya.

“Tekanannya terus mengalami peningkatan sekalipun sinyalemen kenaikan bunga acuan sudah disuarakan BI sebelumnya,” kata Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin.

Tekanan terhadap rupiah belum mereda akibat akumulasi sentimen eksternal. Bank Sentral AS berencana untuk menaikkan kembali bunga acuan, setidaknya 2 kali lagi hingga akhir tahun. Ditambah lagi perang dagang yang terus menghantui pasar keuangan global.

“Di sisi lain, dari sisi internal, saya melihat defisit neraca perdagangan menjadi salah satu masalah mendasar,” ucapnya.

Diterangkan Gunawan, untuk sentimen internal, hal ini tidak terlepas dari pengelolaan fiskal. Dimana akselerasi pembangunan yang dilakukan pemerintah belakangan ini membuat kita sulit untuk memperbaiki masalah defisit tersebut. Ditambah lagi janji pemerintah yang tidak akan menaikkan TDL dan BBM hingga tahun 2019.

“Saya pikir hal tersebut memicu pengeluaran yang membebani anggaran,” ujarnya.

Diakui Gunawan, sekalipun saat ini rupiah di atas harga saat Indonesia mengalami krisis 98. Tetapi dirinya memastikan fundamental-nya berbeda. Tidak bisa disamakan dengan sewaktu kita berhadapan dengan masa sulit di tahun 98 silam.

“Saya melihat sejumlah indikator saat ini masih dalam posisi yang aman. Tidak ada yang harus dikhawatirkan terlalu berlebihan,” ucapnya.

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Ada masalah ekspor yang memang terbebani oleh penurunan sejumlah harga komoditas unggulan. Perang dagang memperburuk semuanya.

“Saat ini kita berhadapan dengan ketidakpastian global. Nah di tengah akselerasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, ditambah dengan tren kenaikan suku bunga,” Gunawan menerangkan.

“Maka tentangan Bank Indonesia saat ini cukup besar. Kebijakan menaikkan bunga acuan menjadi salah satu jalan keluar dibandingkan terus melakukan jor-joran dengan mengintervensi pasar. Pasar akan melihat seberapa besar bunga acuan nantinya. Dan pasar juga terus menantikan efektifitas kebijakan BI di tengah guncangan pasar keuangan global,” tambahnya.

(rel/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar