Ribuan Babi Mati di Sumut Terindikasi African Swine Fever

Ribuan Babi Mati di Sumut Terindikasi African Swine Fever

Balai Veteriner Medan lakukan uji laboratorium terkait kematian ribuan babi di Sumut

(jw/rzd)

Kamis, 7 November 2019 | 21:15

Analisadaily (Medan) - Balai Veteriner Medan menyebut, matinya ribuan babi di Sumatera Utara (Sumut) selain disebabkan virus hog cholera, terindikasi terkena virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia mengatakan, pihaknya sejak September hingga Oktober 2019 telah mengambil sampel terhadap babi yang mati di beberapa kabupaten yang dilaporkan terjadi kematian secara mendadak. Pihaknya menerima laporan kematian babi dari dinas di kabupaten/kota dan provinsi.

"Kita sudah turun ke lapangan dan mengambil sampel di daerah yang terjadi peningkatan ekskalasi kematian babi. Hasilnya, benar seperti yang kita duga sebelumnya, hog cholera yang pernah terjadi di tahun 1993-1996, dan itu wabah," katanya, Kamis (7/11).

Agustia menjelaskan, hog cholera saat itu sudah ditangani. Dari segi ilmu kedokteran, virus itu tetap ada dan tidak menyerang jika ketahanan tubuh babi kuat. Ketika ketahanan tubuhnya kuat, namun masih muncul, maka di situ yang disebutnya dengan daerah endemis.

"Jadi serta merta bisa muncul. Agar tidak muncul, maka harus ada vaksinasi," jelasnya.

Menurut Agustia, penyakit babi tidak hanya hog cholera, mengingat kematian terus terjadi. Pihaknya kembali melakukan uji lab, dan hasilnya menemukan indikasi suspect ASF.

"Begini, kenapa  saya katakan indikasi, karena selama ini tidak pernah ada dan saya katakan sampai saat ini tidak ada serangan virus ASF, tapi kalau indikasi ASF, iya. Beda antara ada dan indikasi, ya," terangnya.

Untuk membuktikan adanya ASF, dilakukan uji lab berkali-kali. Hasilnya disampaikan oleh atasan. Dalam hal ini, pihaknya melaporkan hasil uji lab ke Direktur Jenderal Penyakit dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Virus ASF ini belum pernah ada di Indonesia. Serangannya cepat dan sistemik. Babi yang diserang tidak kelihatan sakit, namun bisa tiba-tiba mati. Virus ASF ini masuk ke dalam tubuh dan mematikan organ-organ. Contoh, di hari pertama hingga satu minggu serangan, babi tidak terlihat sakit, namun selanjutnya mati," ungkapnya.

Ada juga yang dalam seminggu serangan, namun babi tidak langsung mati. Sehingga babi tersebut menjadi sumber penyebar virus.  ASF belum ada obatnya, dan juga vaksinnya belum ada.

"Jadi itu yang membedakannya dengan hog cholera yang vaksinnya sudah ada," ujar Agustia.

Agustia menerangkan, babi yang terserang virus ASF ini masih bisa dikonsumsi, namun setelah dimasak dengan  suhu 100 derajat celcius. Kenapa masih bisa dikonsumsi? karena tidak zoonosis, tidak menular kepada manusia, tapi pig to pig.

Untuk menghindari penyebaran lebih luas, ada perlakuan di lapangan yang harus mengikuti standar ASF.  Pertama, masyarakat tidak membeli ternak babi yang harganya murah. Kedua, masyarakat juga harus menerapkan bio sekuriti, tidak saling menjenguk ternak yang sakit.

Ketiga, bangkai babi tidak dibuang ke sungai atau ke hutan melainkan dikubur. Keempat, perlu dilakukan pengetatan lalu lintas ternak dan menjaga sanitasi kandang.

"Untuk kandang sendiri harus sesering mungkin dicuci. Manajemen kandang, untuk memastikan kandang bersih itu memang tidak mematikan, tapi cukup membantu," Agustina menandaskan.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar