Retakan Baru Muncul di Ponorogo

Retakan Baru Muncul di Ponorogo

Retakan baru muncul di Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (7/4). (BNPB).

(rel/rzd)

Jumat, 7 April 2017 | 15:58

Analisadaily (Ponorogo) - Tanah retak berpotensi longsor kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di saat proses evakuasi 25 korban longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung masih dilakukan, tanah retak terjadi di wilayah lain di Ponorogo.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tanah retak disertai bunyi gemuruh menyebabkan warga panik di Dusun Watu Agung, Desa Dayakan, Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo pada Rabu, 5 April 2017, pukul 16.00 WIB.

Sebanyak 78 KK yang terdiri dari 269 jiwa diungsikan ke tempat yang lebih aman. Pengungsi menempati 4 lokasi. Warga masih belum berani kembali kerumahnya. Warga takut akan terjadi longsor seperti yang terjadi di Desa Banaran pada 1 April 2017 lalu.

“Tanah retak di Dusun Watu Agung, Desa Dayakan semula lebar 30 centimeter, tepatnya di lingkungan Salam. Tanah retak terus melebar,” kata Sutopo, Jumat (7/4).

Hingga saat ini keretakan tanah ada yang mencapai lebar 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 3 meter, posisi ketinggian 300 meter. Makin melebarnya retakan tanah menyebabkan masyarakat takut akan adanya longsor, sehingga masyarakat masih mengungsi.

“Beberapa dinding rumah dilaporkan telah terjadi keretakan akibat tanah yang bergerak,” ujarnya.

BPBD Kabupaten Ponorogo telah mengimbau secara resmi melalui Camat Badegan yang ditandatangani Kalaksa BPBD, agar warga tetap waspada dan mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan Koordinator Kepala Desa Dayakan.

“BPBD telah menyiapkan tenda pengungsi dan kebutuhan logistik yang diperlukan. Saat ini masyarakat patuh dengan himbauan tersebut. 269 jiwa mengungsi,” jelas Sutopo.

Sementara itu, Tim SAR gabungan belum berhasil menemukan lagi korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. 25 korban masih hilang. Operasi SAR pada hari ini dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan briefing dan pembagian tugas.

Tim SAR gabungan sebanyak 686 orang terbagi menjadi 4 sektor yaitu A, B, C, dan D. Penambahan sektor D bertugas mengurai material longsoran yang menutup aliran sungai dan mencari korban. Pencarian korban longsor akan terus dilakukan hingga tanggal 15 April 2017.

“Memang tidak mudah mencari korban karena tebalnya material longsoran yang mencapai 30 meter di lereng bawah makota longsor. Volume material longsoran diperkirakan mencapai 2 sampai 3 juta meter kubik, dengan panjang dari bukit asal longsor hingga titik terakhir longsor mencapai 1,22 kilometer,” sebutnya.

Kendala lain, ucap Sutopo, adalah cuaca yang sering hujan pada siang hari. Hampir setiap hari hujan, sehingga operasi SAR dihentikan pada pukul 14.30 WIB. Sebanyak 10 alat berat masih dikerahkan mencari korban.

“Aksesibilitas lokasi longsor yang cukup sulit dijangkau. Selain itu juga petugas SAR sudah mengalami kelelahan setelah bekerja selama 6 hari sehingga perlu diganti dengan petugas yang baru,” terangnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar