Remigo Berutu Dituntut 8 Tahun Penjara

Remigo Berutu Dituntut 8 Tahun Penjara

Bupati Pakpak Bharat nonaktif, Remigo Berutu jalani persidangan, Kamis (4/7).

(jw/rzd)

Kamis, 4 Juli 2019 | 14:38

Analisadaily (Medan) - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Nur Azis menuntut Bupati Pakpak Bharat nonaktif, Remigo Yolando Berutu (49), dalam perkara suap dengan hukuman penjara selama 8 tahun dan denda Rp 650 juta subsider 6 bulan kurungan.

JPU berpendapat, Remigo telah melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dengan Pasal 12 huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

"Menuntut agar majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan: Satu, menyatakan terdakwa Remigo Yolando Berutu telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagai beberapa perbuatan berbarengan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri," katanya di hadapan majelis hakim yang diketuai Abdul Azis di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (4/7).

"Selain itu, menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Remigo Yolando Berutu dengan pidana penjara selama 8 tahun dan pidana denda Rp 650 juta subsider 6 bulan kurungan," sambung Nur Azis.

JPU juga meminta agar majelis hakim mewajibkan Remigo membayar uang pengganti kerugian kepada negara, dalam hal ini  Pemkab Pakpak Bharat sebesar Rp 1,230 miliar.  Apabila uang itu tidak dibayar dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya akan disita dan dilelang.

"Seandainya hasil lelang tidak mencukupi, maka terdakwa dikenakan pidana penjara selama 2 tahun," ucap Nur Azis.

Selain itu, JPU juga menuntut agar hak politik Remigo dicabut. "Menjatuhkan hukuman tambahan kepada terdakwa Remigo Yolando Berutu berupa pencabutan hak untuk dipilih atau memilih selama 4 tahun setelah terdakwa menjalani pidana pokok," terang Nur Azis.

Seusai pembacaan tuntutan, majelis hakim menunda persidangan. Sidang selanjutnya akan digelar pekan depan dengan agenda pledoi atau pembelaan dari terdakwa.

Dalam perkara ini, Remigo didakwa telah menerima uang melalui David Anderson Karosekali dan Hendriko Sembiring (berkas perkara terpisah) seluruhnya Rp 1.600.000.000 yang didapat dari beberapa rekanan.

Sebanyak Rp 720 juta dari uang itu diperoleh dari Dilon Bacin, Gugung Banurea, dan Nusler Banurea. Rp 580 juta dari Rijal Efendi Padang. Sementara Rp 300 juta dari Anwar Fuseng Padang.

Remigo mengetahui atau patut menduga bahwa pemberian uang itu dimaksudkan agar dia memberikan proyek pekerjaan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pakpak Bharat Tahun Anggaran (TA) 2018 kepada para rekanan tersebut.

Sebagian uang itu digunakan Remigo untuk membiayai kampanye adiknya, Eddy Berutu, dalam Pilkada Dairi, yang akhirnya dia menangkan. Ada pula yang digunakan untuk mengurus kasus dugaan korupsi istrinya, Made Tirta Kusuma Dewi, yang ditangani Polda Sumut.

Kontraktor Rijal Efendi Padang (38), telah dinyatakan bersalah menyuap Remigo. Dalam persidangan Senin (29/4), dia dijatuhi hukuman 2 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 100 juta subsider 4 bulan kurungan.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar