Ramainya Angkutan Berbasis Aplikasi, Begini Cerita Penarik Betor

Ramainya Angkutan Berbasis Aplikasi, Begini Cerita Penarik Betor

Seorang penarik betor sedang duduk di atas becaknya saat mengikuti aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD-SU, Senin (20/3)

(jw/csp)

Senin, 20 Maret 2017 | 15:55

Analisadaily (Medan) - Berbagai problema dirasakan penarik becak motor setelah angkutan berbasis aplikasi yang ada di Kota Medan semakin menjamur. Pengakuan mereka, keberadaan angkutan yang sistemnya menggunakan internet itu membuat pendapatannya berkurang.

Salah satu penarik bettor, M. Taufik, yang ikut dalam unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sumut mengatakan, semenjak adanya angkutan online mengakibatkan pendapatannya menurun dan tidak seperti biasanya.

"Sebelum gojek dan grab ada, pendapatan harianya saya mencapai Rp 150 ribu, tapi setelah angkutan online itu ada, penghasilan saya turun menjadi Rp 80-100 ribu. Itupun kalau rezeki,” kata Taufik kepada Analisadaily.com, Senin (20/3).

"Kalau mendapat Rp 80-100 ribu, itu masih dibagi lagi. Rp 30 ribu untuk sewa becak, belum lagi makan, rokok, kopi dan setoran ke rumah. Itu tidak cukup.”

Hal senada juga di ucapkan Idris, penarik betor yang mengeluh karena pendapatannya berkurang.

"Payah sekarang. Sewa sudah sedikit, tidak seperti biasanya. Paling, yang diharapkan sewa langganan saja," kata Idris.

Dia juga menambahkan, modal perawatan becak terkadang harus menghutang kepada bengkel.

"Kalau udah rusak dan gak ada uang. Kadang saya letakkan dulu di bengkel. Setelah ada duit baru dibayar," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, para penarik betor melakukan aksi unjuk rasa terkait maraknya angkutan yang berbasis online di Kota Medan. Mereka menuntut kepada pemerintah agar angkutan berbasis online segera ditutup.

(jw/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar