Punya Prestasi, Program Jokowi Dinilai Lebih Konkret

Punya Prestasi, Program Jokowi Dinilai Lebih Konkret

Diskusi bertema 'Adu Visi di Debat Ketiga, Siapa Paling Pro Rakyat' yang digelar di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (15/3)

(rzp/eal)

Jumat, 15 Maret 2019 | 21:26

Analisadaily (Jakarta) - Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, dinilai lebih mampu merealisasikan program-program pro-rakyat secara konkret.

Hal itu dikatakan Juru Bicara pada Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Rian Ernest, saat diskusi bertema 'Adu Visi di Debat Ketiga, Siapa Paling Pro Rakyat' yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (15/3).

Hadir dalam diskusi itu anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, TB Ardi Januar; Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansah; dan Pengamat Politik dari Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno.

Menurut Ernest, Jokowi adalah seorang yang membangun karier dari bawah. Begitu juga dengan Ma’ruf Amin yang merupakan seorang kiai kampung. Mereka adalah dua individu yang menapak dari bawah.

Sisi sebaliknya, sambung Ernest, Prabowo dengan segala hormat adalah bagian dari darah biru politik, masuk militer dan menikah dengan tirani orde baru. Sandiaga Uno anak muda yang hebat dan sangat baik, lulusan Pangudi Luhur dan bisa kuliah di Amerika Serikat.

"Dari cerita mereka, kita bisa memiliki lensa siapa yang pro rakyat," tegas Ernest.

Soal pencapaian, sebut Ernest, pasangan Prabowo-Sandi tak memiliki rekam jejak dengan wong cilik. Termasuk setelah Sandi menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

"Dia selalu gembar gembor (program) OK OCE, mengklaim sudah melahirkan 40 ribu wirausaha. Tapi setiap blusukan, saya tanya ke warga apakah mereka suka diberikan pelatihan atau modal? Mereka suka diberikan modal. Sayangnya, Sandi selama jadi Wagub hanya memberikan modal untuk 150 orang. Jadi saya kira itu over claim," tukasnya.

Sementara Jokowi, lanjut Ernest, telah mengucurkan angggaran untuk pembangunan SDM yang melonjak hingga Rp 75 triliun. Tak akan sebanding dengan permodalan yang diberikan kepada 150 orang lewat kredit mikro oleh Sandi.

"Pengangguran turun 0,37%, kemiskinan per Maret 2018 turun jadi 9,82%, gini rasio 0,389%. Belum lagi ada program KIP, KIS, Keluarga Harapan. Banyak sekali prestasi beliau di tengah hujan fitnah dan hoax. Pendidikan kita masih banyak PR. Soal SMK misalnya. Masih banyak yang nganggur. Tapi Jokowi tanggapi dengan membuat inpres untuk memastikan SMK kuat secara kurikulum dan nyambung dengan kebutuhan dunia kerja sekarang," pungkasnya.

Ernest malah mempertanyakan pernyataan Prabowo yang menyebut dalam 100 hari masalah sembako dan pengangguran hilang. Menurut Ernest, Prabowo harusnya memaparkan bagaimana rencana konkret yang akan dibuat untuk merealisasikan persoalan itu.

Seperti Jokowi yang punya program sembako murah, ada juga kartu pra kerja untuk mengatasi pengangguran dan membantu siswa SMK yang mencari kerja. Jokowi lebih konkret dan nyambung dengan kebutuhan masyarakat.

"Menurut saya, Prabowo-Sandi seperti menyederhanakan program, seolah rakyat tidak bisa mikir. Seharusnya Prabowo-Sandi memberikan gagasan yang konkret," timpalnya.

Menanggapi hal itu, TB Ardi Januar menyebutkan, majunya Prabowo-Sandi salah satunya karena Jokowi yang dinilai gagal dalam mewujudkan secara konkret apa yang dijanjikannya saat kampanye di tahun 2014 lalu.

Di tahun 2014 lalu, Jokowi disebut memberikan visi-misi yang begitu menggiurkan, seperti janji 10 juta lapangan kerja, yang nyatanya justru di tahun 2017 lalu, terjadi 1 juta PHK dan ribuan UKM yang akhirnya gulung tikar.

Jokowi juga disebut pernah menjanjikan akan kesejahteraan guru honorer. Tapi Faktanya, selama Jokowi menjabat, angka anak putus sekolah bertambah. UNICEF mencatat 2,5 juta anak putus sekolah.

Sementara di bidang kesehatan, Jokowi janji akan membangun 50 ribu Puskesmas. Namun faktanya tidak terealisasi. Begitu juga janji terkait pengembangan budaya lewat program revolusi mental. Program yang hanya didanai dengan anggaran senilai Rp 100 miliar, dinilai benar-benar tidak berdampak.

"Karena kondisi ini Prabowo-Sandi mencalonkan diri. Jika dipercaya, Prabowo-Sandi akan memberikan beasiswa anak buruh, petani, nelayan, untuk jenjang S1-S3. Kita akan benahi kurikulum. Di bidang kesehatan, kita akan mempekuat BPJS yang pro-konsumen, pro-pekerja medis, jadi win-win solution. BPJS atau kartu jaminan kesehatan harus dirasakan semua rakyat. Prabowo juga akan benahi sistem outsorcing yang sekarang rasanya sangat ugal-ugalan dan memperketat masuknya tenaga asing demi tenaga lokal," tukasnya.

Sementara itu, Trubus Rahardiansah menyebut jika program pasangan 01 sudah bisa dirasakan dan bisa dikritisi, sedangkan program pasangan 02 baru tahap formulasi.

Soal kesehatan misalnya, pasangan 02 punya program masyarakat minum susu. Itu merupakan program yang bagus, tapi jangan sampai cuma jargon. Sementara dari pasangan 01, sudah banyak program kesehatan, ada KIS, kartu keluarga harapan.

"Ada yang berhasil, tapi ada juga yang mesti dibenahi," sebutnya.

Terkait outsourcing, lanjut Trubus, seperti buah simalakama. Tidak mudah karena hingga saat ini kita masih sangat tergantung pada investor.

"Program 02 juga ada keinginan mencabut PP 78 soal pengupahan. Sebenarnya bisa dicabut, tapi apa rujukannya bagaimana menentukan upah," tukasnya.

Soal pendidikan dalam kampanye jarang diangkat. Ini memprihatinkan, padahal ini sangat strategis. Anggaran pendidikan naik, tapi kualitas pendidikan belum naik.

"Saya kira, dari 01 dan 02 sama-sama visi misinya baik, hanya yang mana yang paling mungkin diimplementasikan," tandasnya.

Sementara itu Adi Prayitno memberikan apresiasi terhadap penegakkan hukum di era Jokowi. Salah satunya pasca tertangkapnya salah Ketua Umum PPP, Romahurmuziy oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada siang tadi.

"Ini menunjukkan bahwa hukum tidak lagi tumpul ke atas. Jadi sekarang, siapapun jangan pernah main-main dengan hukum," tukasnya.

Sementara terkait debat pada Minggu 17 Maret 2019 mendatang, Adi khawatir akan menjemukan. Itu karena Sandi yang disinyalir tidak akan memberikan perlawanan sengit kepada rivalnya KH Ma’ruf Amin.

"Saya khawatir Sandi hanya akan sami’na waato’na dengan Kiai Ma’ruf. Dalam berbagai kesempatan dia bilang begitu. Saya tidak tahu apakah ini strategi politik atau bukan. Tapi, dalam tradisi pesantren, sami'na waato’na itu artinya tidak ada bantahan," sebutnya.

Adi sebenarnya ingin agar pada debat tanggal 17 nanti ada debat yang hebat. Bukan sebatas reuni ulama dan santri, yang tidak memiliki substansi.

"Apalagi Kiai Maruf dan Sandi dianggap bisa meningkatkan electoral pasangan masing-masing. Sandi sudah mengeliminasi banyak ketum parpol untuk menjadi capres, itu artinya Sandi dianggap punya kapasitas untuk memenangkan Prabowo. Begitu juga Kiai Maruf. Baik Kiai Ma’ruf maupun Sandi adalah dua sosok baru yang cukup ditunggu apa yang special dari mereka," jelasnya.

"Saya kira di debat nanti stering isu harus to the point. Sandi harus mampu menerjemahkan keinginan masyarakat. Kritik harus diukur dengan fakta dan temuan. Pengangguran memang masih ada, tapi berapa persentasenya. Di satu pasar ada barang yang harganya mahal, tapi itu tidak boleh digeneralisir untuk kondisi semua pasar, karena ada juga yang murah," tambahnya.

Menurut Adi, Prabowo-Sandi sering menyederhanakan persoalan. Harga mahal, betul itu terjadi. "Tapi berapa persentasenya, jangan semua disamakan. Sandi ini sering bikin kejutan, tapi yang kita tunggu apa saja yang akan ia lakukan untuk bangsa ke depan. Kita tahu dia sosok yang sukses berusaha. Tapi apakah mengelola perusahaan sama dengan mengelola negara ini?" timpalnya.

(rzp/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar