Potensi Pengembangan Ekonomi dan Sistem Keuangan Syariah Relatif Besar

Tantangan Perekonomian 2019

Potensi Pengembangan Ekonomi dan Sistem Keuangan Syariah Relatif Besar

CIMB Niaga Syariah Optimalkan Keunggulan: CIMB Niaga menggelar acara bertajuk Diskusi Bersama CIMB Niaga di Medan, Senin (11/2). Diskusi membahas tantangan dan peluang perekonomian Indonesia di 2019, termasuk pada sektor perbankan syariah.

(rel/rzd)

Senin, 11 Februari 2019 | 16:42

Analisadaily (Medan) - Potensi pengembangan ekonomi dan sistem keuangan syariah dinilai masih relative besar pada tahun 2019. Namun, hal ini turut dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Indonesia.

Chief Economist CIMB Niaga, Adrian Panggabean mengatakan, perekonomian Indonesia pada 2019, sebagaimana terlihat dari fluktuasi yang terjadi di Januari, diprediksi masih akan dihadapkan dengan sejumlah tantangan dan ketidakpastian, baik eksternal dan internal.

“Karena itu, para pelaku ekonomi tetap berhati-hati dan jeli. Pemangku kebijakan ekonomi juga perlu membuat formulasi kebijakan yang tepat dan antisipatif,” kata Adrian di Medan, Senin (11/2).

Dijelaskannya, fluktuasi tajam dalam harga-harga di pasar finansial akan terus berlanjut di 2019, sebagai efek dari naiknya suku bunga. Efeknya, pada prospek pergeseran ekstrim dalam harga-harga aset, seperti valuta asing, obligasi, dan indeks harga saham.

“Naik tajamnya suku bunga di 2018, berpotensi memengaruhi dinamika ekonomi di 2019,” jelasnya.

Adrian menuturkan, dari sisi eksternal, tantangan terhadap perekonomian Indonesia berasal dari sejumlah faktor, seperti ketidakpastian frekuensi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi di China, serta bentuk respons kebijakan bank sentral China.

Selain itu, prospek normalisasi moneter di Zona Eropa, gesekan geopolitik yang berimbas pada harga minyak, serta prospek berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, adalah faktor lain yang juga perlu dicermati.

Dari sisi domestik, lanjutnya, tetap ketatnya postur kebijakan moneter dan relatif absennya dorongan kebijakan, berpotensi menurunkan momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal pemerintah yang relatif netral terhadap siklus bisnis, memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019.

“Terbatasnya ruang fiskal, yang akan diaksentuasi prospek berlanjutnya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia untuk menjaga nilai Rupiah, kemungkinan besar berdampak pada pelemahan dinamika sektor rill,” tuturnya.

Namun begitu, Adrian menilai, Indonesia masih bisa optimis karena sejumlah hal. Pertama, tingkat inflasi akan tetap terjaga. Kedua, tekanan impor juga diperkirakan akan mulai berkurang di 2019, sejalan dengan hampir rampungnya berbagai proyek infrastruktur.

Ketiga, terbatasnya frekuensi kenaikan suku bunga acuan di 2019 akan membuat pasar obligasi relatif bergairah. Adrian tidak lupa mengingatkan, dinamika perekonomian yang menantang pada 2019 bukanlah hal yang harus ditakuti.

“Tentunya, di balik voltalitas ada kesempatan. Di balik tantangan perekonomian Indonesia di 2019, ada banyak peluang yang bisa tetap kita raih,” tandasnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar