Pornografi Pemicu Maraknya Kasus Pedophilia

Pornografi Pemicu Maraknya Kasus Pedophilia

Orang tua korban sodomi berkunsultasi dengan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait

(dgh/eal)

Jumat, 17 Maret 2017 | 22:05

Analisadaily (Medan) - Amalia Batubara (24) bersama suaminya, Syaiful (29), warga Jalan Menteng Medan harus bolak-balik ke Polrestabes Medan untuk mengawal perkembangan laporan mereka.

Beberapa hari lalu, Amalia dan Syaiful melaporkan sepupu dan keponakannya atas dugaan sodomi terhadap anak mereka yang masih berumur 3 tahun. Balita itu pun mengalami trauma pasca disodomi.

Amalia dan suaminya berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi anak mereka. Namun ada juga celah kesalahan yang dilakukan orang tua korban. Mereka terlampau sibuk dengan pekerjaan sehingga terpaksa menitipkan anaknya ke rumah nenek korban. Tak disangka, keluarga korban tega menyodomi balita umur 3 tahun itu.

Menanggapi kasus tersebut, Irna minauli angkat bicara. Psikolog itu menjelaskan kaitan antara kejahatan seksual dengan hubungan kedekatan antara korban dan pelaku.

"Sebagaimana diketahui, para pelaku kejahatan seksual pada anak seringkali dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka sehingga banyak orang tua yang tidak menyadari. Banyak kasus yang bahkan sampai dewasa, korban menyimpan kepedihan dan kemarahannya seorang diri karena orang tua tidak mengetahui atau mencurigai," kata Irna saat dikonfirmasi via seluler, Jumat (17/3).

Pada kasus balita umur 3 tahun yang disodomi, untungnya, kata Irna, orang tua korban segera mengetahui adanya perbuatan jahat terhadap anak mereka.

"Semakin lama anak mengalami kekerasan seksual maka dampak psikologis yang dialaminya juga akan semakin parah", tutur Irna Minauli.

Lebih jauh Irna menjelaskan, banyaknya paparan pornografi serta kurangnya fasilitas umum untuk menyalurkan energi yang sangat membludak pada masa remaja ini membuat mereka akhirnya menyalurkan hasrat seksual pada anak-anak kecil yang ada di sekitar mereka.

Terlebih saat ini perilaku pedophilia sepertinya menjadi suatu tren gaya hidup bagi kelompok tersebut. Hal ini membuat semakin banyak remaja atau orang dewasa lain yang ingin mencoba perilaku tersebut.

Para pelaku kekerasan seksual pada anak, sambung Irna, umumnya adalah mereka yang memiliki harga diri yang rendah sehingga mereka tidak yakin bahwa orang dewasa atau mereka yang sebaya dengannya akan tertarik pada dirinya.

Irna menambahkan, para pelaku kekerasan seksual pada anak kemungkinan memiliki pengalaman kekerasan seksual di masa lalu mereka.

"Selain itu, anak yang dibesarkan dengan budaya kekerasan juga cenderung menjadi pelaku. Hal ini disebabkan karena mereka cenderung kurang mampu mengembangkan empati pada anak lain", pungkas Direktur di Minauli Counsulting ini.

(dgh/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar