Peringati 15 Tahun Kematian Munir, KontraS Sumut Nilai Negara Masih Absen

Peringati 15 Tahun Kematian Munir, KontraS Sumut Nilai Negara Masih Absen

KontraS Sumut peringati 15 tahun kematian Munir, Sabtu (7/9)

(jw/rzd)

Sabtu, 7 September 2019 | 17:36

Analisadaily (Medan) - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi peringatan 15 tahun kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib, di Tugu Pos Lapangan Merdeka, Kota Medan.

"Dalam peringatan ini, kami meminta kepada pemerintah agar mengungkap misteri dan dalang pelaku pembunuh Munir. Meninggal Munir salah satu dari sekian banyak hutang sejarah negara yang sampai saat ini belum tuntas diungkap," kata Koordinator KontraS, Amin Multazam Lubis, Sabtu (7/9).

Meskipun orang yang ditetapkan sebagai pelaku pembunuh Munir adalah Polycarpus, namun diyakini hanyalah pelaku lapangan dan bukan koseptor dari kasus kematian Munir.

"Adapun pelaku yang ditetapkan dalam kasus pembunuhan Munir masih merupakan sebuah misteri. Hingga saat ini kematian Munir masih merupakan sebuah misteri," ucapnya.

Menurut Amin, walaupun pemerintah pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), namun tim tersebut tidak memberikan gambaran apapun.

"Bahkan, kabar fakta-fakta yang ditemukan TGPF telah hilang ketika diserahkan pada era Presiden Jokowi. Inilah wajah dari proses pencarian keadilan dan penegakan hukum di Indonesia," terangnya.

Amin juga meminta kepada pemerintah, negara harus serius dalam penanganan kasus Munir yang sampai saat ini belum juga selesai. Ada dua hal yang mereka minta kepada pemerintah, pertama negara harus menuntaskan kasus Munir secara baik.

"Semua bukti-bukti yang ada itu di follow up, sebagai bukti untuk diusut di pengadilan. Hasil dari TGPF, keterlibatan dalam kasus Munir sampai saat ini belum terkuak," ucapnya.

KontraS Sumut peringati 15 tahun kematian Munir, Sabtu (7/9) (jw)

KontraS Sumut peringati 15 tahun kematian Munir, Sabtu (7/9) (jw)

Kedua, lanjutnya, bagaimana warga sipil merawat ingatan kasus Munir belum juga terungkap, dan negara sampai saat ini masih berhutang atas nyawa Munir.

"Pembangunan kita, demokrasi kita, masih ada dalam bayang-bayang ketidakadilaan dan pelanggaran HAM," tegasnya.

Amin juga menambahkan, di Indonesia sendiri pengungkapan kasus HAM hanya sekadar dagangan dari elit-elit politik untuk berkuasa.

"Untuk pengungkapan kasus HAM di Indonesia hanya sebagai dagangan politik sebelum Pemilu. Usai Pemilu, penuntasan kasus HAM belum menjadi prioritas bagi negara sampai saat ini," tegasnya.

Dalam peringatan 15 tahun kematian aktivis HAM, Munir Said Thalib, KontraS Sumut mengelar teaterikal, pembacaan puisi, dan pembagian bunga kepada para pengendara yang melintas di kawasan Lapangan Merdeka.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar