Perang Dagang Jadi Ancaman Bagi Rupiah

Perang Dagang Jadi Ancaman Bagi Rupiah

Ilustrasi (Pexels)

(rel/rzd)

Selasa, 14 Mei 2019 | 13:00

Analisadaily (Medan) - Pasar keuangan global kembali menghadapi tekanan seirus. Keputusan Tiongkok yang memberikan serangan balik ke AS dalam bentuk kenaikan tarif impor hingga mencapai 840 Triliun memperburuk kondisi pasar keuangan global.

Analis Pasar Modal, Gunawan Benjain mengatakan, AS yang sebelumnya juga melakukan kenaikan tarif untuk barang barang dari Tiongkok, yang semula sebesar 10% menjadi 25%.

“Perang dagang ini akan memperburuk keadaan ekonomi di Negara berkembang. Termasuk Indonesia. Perang dagang ini memicu terjadinya pelemahan sejumlah mata uang dunia. Katakanlah mata uang Rupiah yang belakangan terus melemah hingga di level 14.450-an per US Dolar. Sementara itu indeks saham di pasar global juga berada di bawah tekanan,” kata Gunawan, selasa (14/5).

Menurutnya, tekanan terhadap Rupiah bisa mengubah asumsi sejumlah indikator ekonomi makro. Pelemahan Rupiah di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia akan berpeluang menciptakan kemungkinan kenaikan harga BBM di tanah air.

“Di sisi lain, neraca perdagangan kita sulit di tekan jika Rupiah terus menerus mengalami pelemahan. Atau juga pelemahan rupiah mengakibatkan terjadinya kenaikan sejumlah kebutuhan masyarakat di tanah air,” jelasnya.

“Multiplier efeknya memang sangat luas. Dan pemerintah kita harapkan lebih waspada terkait dengan berkecamuknya perang dagang belakangan ini,” lanjtunya.

Gunawan menyebut, upaya-upaya dalam mengendalikan sejumlah indikator ekonomi makro menjadi sulit jika perang dagang ini terus berlanjut. Perang dagang ini memicu terjadinya perlambatan di kedua Negara besar, yakni AS dan Tiongkok.

Perlambatan tersebut akan juga dirasakan oleh Indonesia. Bentuk yang paling mungkin akan dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga sejumah kebutuhan hidup. Selanjutnya adalah potensi pendapatan yang menurun akibat penurunan harga komoditas ataupun pendapatan rumah tangga yang tak kunjung mengalami kenaikan.

“Jadi kondisi perang ini akan menyeret kita dalam tekanan ekonomi yang bisa melebar ke sub sektor ekonomi,” terangnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar