Pentingnya Akreditasi Perpustakaan Untuk Peningkatan Lembaga

Pentingnya Akreditasi Perpustakaan Untuk Peningkatan Lembaga

Kepala Bidang Pengembanagn Perpustakaan Sekolah dan Perguruan Tinggi Perpusnas RI, Supriyanto, menyampaikan materi pada Bimbingan Teknis Assesor Perpustakaan Tahun 2019 di Medan, Selasa (2/7). 

(jw/rzd)

Selasa, 2 Juli 2019 | 22:57

Analisadaily (Medan) - Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Perguruan Tinggi Perpusnas RI, Supriyanto mengatakan, Akreditasi Perpustakaan menjadi hal yang penting untuk peningkatan kualitas lembaga seperti sekolah maupun perguruan tinggi.

“Ke depan Perpustakaan Nasional RI akan menjalin MoU dengan Kemendikbud dan Kemenristekdikti agar setiap perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi diakreditasi,” katanya saat Bimbingan Teknis Assesor Perpustakaan 2019 di Medan, Selasa (2/7).

“Karena nilai akreditasi perpustakaan akan dipakai untuk nilai akreditasi lembaga induk atau setiap perlombaan perpustakaan,” sambungnya.

Supriyanto menjelaskan, peta perpustakaan umum dari 34 provinsi, baru 20 provinsi yang terakreditasi dengan rincian, terakreditasi A yakni 6 provinsi (4 di Jawa, 2 luar Jawa), terakreditasi B (11 provinsi), terakreditasi C (3 provinsi di Sumatera bagian Selatan), dan belum terakreditasi 14 provinsi.

Sedangan jumlah perpustakaan di Indonesia 235.908 perpustakaan, hanya 846 perpustakaan (0,35 persen) yang sudah terakreditasi dengan perincian, perpustakaan sekolah jumlah 199.913 perpustakaan yang terakreditasi 477 (0,24 persen), perpustakaan perguruan tinggi 2.775 perpustakaan yang terakreditasi 181 (6,58 persen).

Kemudian Perpustakaan Umum 26.088 perpustakaan, yang terakreditasi 120 perpustakaan (0.95 persen), dan perpustakaan khusus 7.132 perpustakaan yang terakreditasi 68 (0.93 persen).

“Untuk 2020 ditargetkan ada peningkatan yakni 1.000 sampai 2.000 perpustakaan terakreditasi,” jelasnya.

Supriyanto mengungkapkan, Indonesia merupakan negara yang terbanyak kedua memiliki perpustakaan, yakni 235.908 perpustakaan, terbanyak pertama, India dengan 323.605 perpustakaan.

“Terbanyak ketiga Rusia ada 113.440 perpustakaan dan China ada 105.831 perpustakaan,” ungkapnya.

Dari 34 provinsi di Indonesia, ada tiga provinsi yang perpustakaan terakreditasi di atas 100 lembaga, Jawa Timur, Jawa Barat dan Yogyakarta. Hasil terendah di provinsi luar Jawa, khususnya di Indonesia Bagian Timur dan Sulawesi Bagian Tengah dan Utara. Sedangkan untuk Sumatera Utara baru 23 perpustakaan.

“Saya berharap ke depan ada peningkatan,” ucapnya.

Masalah umum rendahnya akreditasi yakni terbatasnya jumlah SDM perpustakaan yang kompeten dan profesional, keterbatasan anggaran perpustakaan. Ini menjadi masalah utama, masih rendahnya pemahaman arti dan manfaatan penerpan standar SNP dan akreditasi perpustakaan.

Selanjutnya tinggi frekuensi perpustakaan daerah (selaku pembina) sehingga kurangnya perhatian atau komitmen pimpinan dalam hal pengembangan penyelenggaraan atau pengelolaan perpustakaan berbasis standar nasional perpustakaan.

“Perpusnas RI, setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk menstimulasi peningkatan capaian akreditasi nasional. Tahun 2018 diperuntukan 800 perpustakaan. Tahun 2019 ada 900 perpustakaan dan tahun 2020 diupayakan sama atau lebih banyak,” tambahnya.

Untuk diketahui bahwa tujuan bimtek asesor perpustakaan tersebut untuk meningkatkan keterampilan teknis calon asesor perpustakaan, menyiapkan calon peserta diklat perpustakaan dan membantu dinas perpustakaan provinsi dalam penyiapan calon asesor perpustakaan.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar