Pentahelix Sebagai Langkah Optimal Cegah Karhutla

Pentahelix Sebagai Langkah Optimal Cegah Karhutla

Loka Karya Optimalisasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kabut Asap di Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, (8/10). (BNPB)

(csp)

Selasa, 8 Oktober 2019 | 18:36

Analisadaily (Jakarta) - Kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap di Indonesia menjadi perhatian serius dan membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat agar penanganannya bisa dilakukan dengan optimal.

Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Wisnu mengatakan, seperti arahan Presiden Jokowi dalam menanggapi bencana karhutla, pencegahan menjadi prioritas utama.

“Melalui metode pentahelix, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media dapat meningkatkan langkah pencegahan sehingga karhutla yang selalu terjadi setiap tahun tidak menimbulkan dampak yang semakin merugikan,” ujar Wisnu dalam Loka Karya Optimalisasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kabut Asap di Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, (8/10).

Hadir dalam kegiatan ini Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Dr. Indra Gustari, Kemenko Bidang Perekonomian, Li Chen Wei, PT. Triputra Group, Sutedjo Halim, Badan Restorasi Gambut (BRG), Hartono, Litbang SDA PUPR, Budi Triadi, Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jasmin Ragil Utomo dan Staf Ahli Kemenlu RI, Peter F. Gontha.

Wisnu melanjutkan, kolaborasi lintas lembaga menjadi solusi efektif dalam penanganan bencana karhutla. Proses yang dimulai dari langkah pencegahan dan antisipasi dengan data yang diperoleh dari BMKG, pengelolaan gambut yang diawasi oleh BRG.

Juga pengelolaan lahan yang dikawal pemerintah daerah bersama masyarakat setempat, partisipasi aktif sektor swasta serta sanksi administratif maupun penegakan hukum secara perdata maupun pidana mampu meminimalisir bencana karhutla.

Peter F   Gontha menyampaikan, tidak hanya di Indonesia, bencana karhutla juga terjadi di beberapa negara di dunia. Tetapi, Indonesia memiliki kesulitan tersendiri karena lahan yang terbakar adalah lahan gambut.

“Jika Indonesia mampu mengelola lahan gambut dan melakukan pemanfaatan lingkungan hidup dengan baik, Indonesia mampu menjadi ‘world superpower’, mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya,” ujar Peter F   Gontha.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi antar lembaga dan tokoh masyarakat, mulai dari aparat keamanan dan pemerintah daerah yang mengutarakan pendapat dan masukan untuk penanganan karhutla.

Kepala BNPB, Doni Monardo mengatakan, karhutla selalu terjadi setiap tahun, cuaca kemarau dan kekeringan juga dapat diperkirakan. Yang membuat selama ini belum dapat mengantisipasi karhutla adalah hanya bekerja, namun belum bekerja sama.

“Untuk itu, melalui konsep Pentahelix, mari kita bersama-sama bekerja keras mengantisipasi karhutla dan menjaga lahan gambut sesuai kodratnya yaitu berawa, berair dan basah. Satu hal yang paling penting, seperti arahan Presiden RI, selalu utamakan pencegahan daripada penanggulangan,” ujar Doni Monardo.

(csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar