Pengembangan Wisata Danau Toba Berbasis Kearifan Lokal

Pengembangan Wisata Danau Toba Berbasis Kearifan Lokal

Diskusi dengan tema 'Halak Batak Dohot Hamajuon' atau Orang Batak dengan Kemajuan.

(csp/rzd)

Sabtu, 13 Juli 2019 | 23:53

Analisadaily (Medan) - Danau Toba, salah satu dari sepuluh destinasi wisata nasional yang difokuskan pemerintah Indonesia untuk dikembangkan. Sehingga tidak heran, ketika objek ini menjadi topik perbincangan dalam diskusi-diskusi, baik formal, non formal maupun informal.

Dari berbagai aspek, potensi wisata danau yang terbentuk lewat letusan Gunung Toba ini terus dieksplorasi, termasuk sisi budaya masyarakat yang tinggal disekitarnya, mata pencahariannya dan kearifan lokal lainnya.

Berkaitan dengan pengembangan potensi wisatanya, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak melalui Pollung na Marimpola menggelar diskusi dengan tema 'Halak Batak Dohot Hamajuon' atau Orang Batak dengan Kemajuan.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi akademisi Universitas Prima Indonesia (UNPRI), Henry Marpaung, Penggiat budaya Batak dan pendiri Rumah Budaya Tonggo, Jim Siahaan, Penulis, Tonggo Simangunsong, Oppung Lela Djingga dan Karmel Simatupang sebagai moderator.

Henry Marpaung menyampaikan, kawasan sekitar Danau Toba masih sulit dikembangkan secara merata karena akses permodalan dan pengelolaan yang kurang. Dan, hanya segelintir pihak yang menikmati kemajuan dari potensi pariwisatanya.

Kurangnya pengelolaan secara kolektif ini, lanjut Henry, membuat sejumlah kawasan yang berpotensi menjadi destinasi pariwisata, tidak bisa dikelola dengan rapi dan tertata dengan baik.

“Akibatnya, kawasan wisata tidak tertata dengan baik. Bahkan, ada masyarakat setempat yang hanya jadi penonton. Sementara yang punya aset dan modal menikmatinya sendiri,” kata Henry di Rumah Budaya Tonggo, Jalan Letjend Suprapto, Nomor 11, Medan, Sabtu (13/7).

Misalnya, Ia mencontohkan, salah satu kawasan di tepi Danau Toba yang pantainya ditutupi pengusaha souvenir. Padahal tanpa harus menutupi masyarakat lain dapat mengambil keuntungan dari pantai.

“Hanya saja, karena pemilik tanah itu, kebetulan berada di tepi pantai, akses ekonomi bagi masyarakat di sekitar tertutup. Sehingga tidak semua bisa menikmati keuntungan dari pariwisata di daerah itu,” sambungnya.

Atas kondisi itu, Henry menyarankan, jika ingin menikmati bersama, maka pemilik tanah harus mau mengalah dan saling berbagi dengan masyarakat lain. Namun menurutnya, ini tentu saja tidak mudah dilakukan.

Tetapi begitupun, salah satu cara mengatasinya ialah dengan membentuj operasi. Dengan ini, masih kata dia, masyarakat dapat mengelola kawasan itu secara swadaya dan mendapatkan hasil secara merata.

Berbeda dengan Henry, pembicara seperti Jim Siahaan, lebih menyoroti aspek pengelolaan pariwisata yang lebih mengutamakan kearifan lokal.

Jim menilai, pariwisata pada prinsipnya adalah escaping. Orang Inggris yang selalu hidup di tengah perkotaan, tentu sangat ingin melihat sesuatu yang tidak ada di kehidupan mereka. Itulah mengapa mereka pergi ke Himalaya.

Begitu juga dengan pengelolaan pariwisata di Danau Toba, jangan lagi menyajikan apa yang ada dalam kehidupan mereka.

“Wisata ke sawah, melihat kerbau, atau tidur di kamar yang ada nyamuknya, bagi orang Barat itu mungkin pengalaman menarik,” kata Jim.

Begitu juga Tonggo Simangunsong, yang menyampaikan gagasanya agar pembangunan di kawasan Toba tidak melulu hanya fisik, termasuk infrastruktur, sarana dan prasarana, tapi juga memperhatikan pembangunan karakter masyarakat.

Pemerintah maupun lembaga non-pemerintah harus saling bahu membahu untuk lebih turun ke akar rumput sehingga kesadaran di masyarakat terus terbangun perlahan-lahan.

Misalnya, kata dia, di industri pariwisata, masyarakat sebenarnya dapat memanfaatkan potensi yang ada menjadi punya nilai ekonomi. Hanya saja, mereka kurang termotivasi karena sosialisasi tidak banyak dilakukan. Sehingga, pemodal dari kota turun ke desa lalu mengembangkan potensi itu. Masyarakat lokal jadi penonton, dan bisa memunculkan kecemburuan sosial.

“Contohnya, bagaimana membuat kerajinan tangan dari enceng gondok. Tidak hanya itu, kerbau yang sedang makan rumput saja bisa jadi tontonan bagi wisatawan, asalkan dikemas dengan baik. Masih banyak contoh, misalnya panen padi di sawah bisa juga jadi atraksi wisata yang dipadukan destinasi wisata berbasis desa, cuma ini belum digerakkan dengan maksimal,” ujar Tonggo yang juga pegiat di YPKB.

Salah seorang peserta diskusi, Oppung Lela Djingga menyampaikan, satu perkampungan di Bukit Lawang, warganya mengelola lahan persawahan dan menjadikannya sebagai pusat perhatian, atau destinasi wisata.

“Saya pikir, itu sangat menarik karena tidak ada bagian alam yang dirusak di sana, dan mempertahankan tradisi bersawah di sana. Ternyata, wisatawan luar, seperti dari Jerman sangat suka seperti itu. Mengapa yang seperti itu tidak kita coba di kawasan Toba. Saya rasa banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan. Asalkan jangan merusak tatanan yang ada sebelumnya, apalagi sampai merusak lingkungan,” tutur Oppung Lela.

Peserta lainnya, Juner Panjaitan mengatakan, pada dasarnya 'halak Batak' adalah orang baik dan punya sikap menerima. Buktinya, ketika Nommensen datang ke Tanah Batak, ia diterima dengan baik untuk mengajarkan Kristen.

Begitu juga kemajuan yang dalam perjalanan waktu diterima orang Batak, hanya saja diperlukan kekompakan dan pemersatu untuk menjadikan orang Batak maju seutuhnya. Tidak hanya di perantauan, tapi juga di tanah nenek moyangnya.

“Memang ini bukan pekerjaan yang mudah, namun kalau kita bisa bersatu, kemajuan dalam orang Batak akan sangat dapat dirasakan secara merata, misalnya dengan menerapkan prinsip koperasi tadi,” ucapnya.

Pada 21 Juni 2019, YPKB juga menggelar pollung dengan topik 'Batak: Dulu, Kini dan Masa Depan' bersama pembicara Prof. Dr. Albiner Siagian dari Universitas Sumatera Utara, Jim Siahaan, Penggiat budaya Batak dan pendiri Rumah Budaya Tonggo, dan Manguji Nababan, Penggiat literasi Batak dari Universitas HKBP Nommensen.

(csp/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar