Pengamat: Relawan Jokowi Membuat Elektabilitas Djoss Menanjak

Pengamat: Relawan Jokowi Membuat Elektabilitas Djoss Menanjak

Dua pasangan yang akan bertarung di Pilgubsu 2018

(jw/eal)

Sabtu, 21 April 2018 | 21:19

Analisadaily (Medan) - Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Dadang Darmawan mengatakan, dari empat lembaga survey yang melakukan survey Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus mendapat trend positif. Dari survey itu, elektabilitas Djarot-Sihar terus mengalami peningkatan.

Berbeda dengan elektabilitas pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah yang masih terbilang kumulatif. Dalam survey terakhir yang baru diumumkan lembaga riset PRC, elektabilitas Djoss berada di angka 38,4%, selisih 13% dengan Eramas yang berada di angka 48,7%.

"Trend positif Djoss dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah strategi," kata Dadang, Sabtu (21/4).

Menurutnya, sejak awal Eramas memang menunjukkan strategi mempertahankan kemenangan. Karena sejak digadang-gadang akan menjadi Cagub, elektabilitas Edy Rahmayadi memang tinggi. Apalagi Edy pernah menjabat sebagai Pangkostrad.

"Ektabilitas yang tinggi sejak awal tidak kelihatan lagi sekarang karena Djarot berhasil mengidentifikasi kelemahan yang ada pada mereka. Dan adanya faktor eksternal yang turut mempengaruhi suara Djarot," ucap Dadang.

Peningkatan elektabilitas Djoss juga dipengaruhi oleh mundurnya pasangan JR Saragih-Ance Selian dari pertarungan. Dukungan massa JR-Ance tampaknya beralih ke Djoss.

Menurut Dadang, pasangan Eramas seperti tidak punya strategi lain selain strategi agama. "Jadi mereka kehilangan variabel-variabel pengaruh yang lain. Jadi hanya satu variabel saja yang dominan. Dan itu seolah -olah kalau menurut yang kita lihat, terjebak pada opini yang dikembangkan di tengah-tengah masyarakat, bahwa satu-satunya cara agar Eramas bisa menang adalah dengan isu agama," ujar Dadang.

Hal itu dimanfaatkan betul oleh Djoss yang masuk ke segala lini. Mereka terus melakukan penetrasi untuk menggaet dukungan.

"Mereka tidak mau terjebak, pada isu primordial, keagamaan, SARA, sehingga membuat begitu banyak upaya lain untuk mempengaruhi pemilih. Mereka masuk ke kelompok mana saja, tanpa ikatan primordial, Djarot berbagi peran dengan Sihar," jelasnya.

Dadang mengungkapkan bahwa Djoss juga mendapat tambahan amunisi dari relawan yang dulunya mendukung Jokowi saat Pilpres. Sedangkan Eramas hanya mendapat dukungan dari upaya sendiri. Relawan Jokowi menjadi keuntungan sendiri bagi Djoss sehingga mereka tinggal mencari dukungan dari variabel yang lain.

"Selisih 13% dalam survey PRC memang bukan hal yang mudah untuk Djoss. Belum lagi, faktor lain yang bisa berpengaruh pada pendulangan dukungan. Variabel non politik yang akan berpengaruh. Misalnya, urusan saksi dan lainnya, itu akan cukup mempengaruhi," ungkapnya.

Sedangkan untuk Eramas, Dadang menjelaskan bahwa tim Eramas harus melakukan evaluasi agar tidak kecolongan suara. Eramas juga harus bisa lebih terbuka terhadap masukan dari masyarakat.

"Intinya, Eramas harus evaluasi dan buka diri. Hanya itu yang bisa mendorong dan mengimbangi Djoss," tukasnya.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar