Pengamat: Realisasi Laju Tekanan Inflasi Sumut Menyedihkan

Pengamat: Realisasi Laju Tekanan Inflasi Sumut Menyedihkan

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin.

(rel/rzd)

Selasa, 11 Juni 2019 | 10:53

Analisadaily (Medan) - Laju realisasi inflasi di Sumatera Utara (Sumut) pada bulan Mei 2019 yang membukukan angka 1.19% menurut Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, terbilang sangat buruk. Pasalnya di bulan April 2019 Sumut juga merealisasikan laju tekanan inflasi sebesar 1.23%.

“Total dua bulan saja laju tekanan inflasi di wilayah Sumut sudah mencapai 2.41%. Sebuah realisasi laju tekanan inflasi yang tentunya sangat mahal bagi masyarakat,” kata Gunawan, Selasa (11/5).

Gunawan menilai, tekanan yang terjadi pada inflasi Sumut masih dipengaruhi kenaikan sejumlah bahan pokok masyarakat, seperti cabai merah dan bawang putih dan beberapa komoditas lainnya. Hanya saja kenaikan inflasi tahun ini terbilang buruk jika dibandingkan libur Lebaran tahun lalu, justru Sumut mengalami deflasi 0.7%.

“Sumut masih kedodoran dalam mengontrol sejumlah harga barang, khususnya komoditas cabai yang harganya kerap berfluktuasi sangat liar. Laju realisasi tekanan inflasi tersebut, harus jadi cambuk buat kita semua untuk menjaga inflasi hingga tutup tahun tetap sesuai sasaran 3.5%. Laju tekanan inflasi sebesar 1% lebih, jelas ini memperburuk daya beli masyarakat di wilayah Sumut,” sebutnya.

“Sungguh disayangkan memang, walaupun memang mengendalikan inflasi akibat kenaikan harga bahan pokok belakangan ini bukan perkara mudah. Karena memang lebih banyak dipengaruhi oleh sisi persediaan yang mengakibatkan kita kedodoran. Tetapi sudah semestinya kita memiliki sejumlah instrument yang mampu untuk meminimalisir dampak dari kenaikan harga di masa yang akan datang,” lanjutnya.

Gunawan juga berpandangan, realisasi inflasi di Sumut juga melebihi rata-rata inflasi nasional yang masih di kisaran 0.6 persenan. Namun Sumut merealisasikan angka yang lebih buruk, 2 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Dan realisasi laju tekanan inflasi ini jauh melebihi batas atas ekspektasi saya, sebelumnya saya memperkirakan inflasi terburuk Sumut itu di atas 0.5%,” ujarnya.

“Saya mengatakan, pemerintah gagal dalam mengendalikan harga di wilayah Sumut. Sekalipun memang ini masalahnya terletak pada gangguan supply yang memang sulit untuk diatasi dengan cara instan. Kita perlu memikirkan sebuah cara untuk memitigasi kemungkinan kenaikan laju tekanan inflasi ke depan. Dan kita membutuhkan pengumpulan sampel ekspektasi produksi tanaman cabai di tingkat petani,” paparnya.

Berdasarkan pemaparan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumut (BPS Sumut), pada bulan Mei 2019, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut tercatat inflasi, yaitu Sibolga sebesar 0,67 persen; Pematangsiantar sebesar 0,67 persen; Medan sebesar 1,33 persen; dan Padangsidimpuan sebesar 0,27 persen.

“Dengan demikian, gabungan 4 kota IHK di Sumut pada bulan Mei 2019 inflasi sebesar 1,19 persen,” sebut Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara, Syech Suhaimi, Senin (10/6) kemarin.

Inflasi pada bulan Mei 2019 menyebabkan laju inflasi kumulatif (bulan Mei 2019 terhadap bulan Desember 2018) masing‐masing kota sebagai berikut: Sibolga inflasi 1,34 persen; Pematangsiantar inflasi 1,68 persen; Medan inflasi 2,89 persen; dan Padangsidimpuan inflasi 0,89 persen.

“Dengan demikian, laju inflasi kumulatif gabungan 4 kota IHK di Sumut inflasi 2,62 persen,” terangnya.

Inflasi pada bulan Mei 2019 menyebabkan laju inflasi year on year (bulan Mei 2019 terhadap bulan Mei 2018) masing‐masing kota sebagai berikut: Sibolga inflasi 3,36 persen; Pematangsiantar inflasi 3,17 persen; Medan inflasi 4,45 persen; dan Padangsidimpuan inflasi 2,89 persen.

“Sehingga inflasi year on year gabungan 4 kota IHK di Sumut sebesar 4,21 persen,” tutur Suhaimi.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar