Penembakan Liar, 24 Peluru Ditemukan Ditubuh Paguh

Penembakan Liar, 24 Peluru Ditemukan Ditubuh Paguh

Orangutan yang diberi nama Paguh tampak berada dalam perawatan intensif di Stasiun Karantina Orangutan Batu Mbelin Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola YEL-SOCP

(jw/csp)

Kamis, 28 November 2019 | 12:07

Analisadaily (Medan) – Penembakan liar Orangutan Sumatera (Pongo abelii) kembali terjadi. Kali ini di Desa Gampong Teungoh, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan, Kamis (21/11). Sebanyak 24 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya.

Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melalui tim SKW II Subulussalam bersama YOSL-OIC kemudian mengevakuasi Orangutana bernama Paguh itu.

Kini Paguh menjalani perawatan intensif di Stasiun Karantina Orangutan Batu Mbelin Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola YEL-SOCP, sejak 21 November 2019.

"Kawan-kawan konservasi wilayah dua yang sedang patroli mendapat ada Orangutan terluka. Kemudian berkoordinasi dengan Orangutan Information Centre (OIC) untuk pengecekan. Betul ada satu orangutan jantan yang terluka karena senapan angin," kata Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, Kamis (28/11).

Peristiwa ini bukan yang pertama, pelaku sebelumnya dikenai hukuman adzan. "Artinya kan itu sudah melalui proses hukum, kalau terkait ketentuannya memang aturan itu yang mengatur seperti itu," tutur Agus.

Sedangkan untuk kasus kali ini, Agus mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepolisian.

"Sampai saat ini masih proses mencari keterangan. Karena saat Orangutan ditemukan, posisinya berada di kebun masyarakat. Dia sedang mencari pohon. Ini masih kita gali informasinya," ucapnya.

Dokter Hewan YEL-SOCP drh Meuthya Sr mengungkapkan, dari hasil X-Ray teridentifikasi 24 peluru di tubuh Paguh. Dengan rincian, 16 di bagian kepala, 4 di bagian kaki dan tangan, 3 di daerah panggul dan 1 di daerah perut.

"Tiga peluru dibagian kepala telah dikeluarkan. Perawatan intensif akan terus kami berikan kepada Paguh sampai kondisinya membaik," ungkapnya.

Tak hanya alami luka tembak, drh Meuthya Sr menerangkan, dari hasil pemeriksaan kesehatan, kedua matanya mengalami kebutaan.

Awalnya diperkirakan mata Paguh tidak rusak total atau paling tidak salah satu mata masih berfungsi. Namun sayang, kedua mata Paguh buta. Bola mata kanan tampak merah, bola mata kiri keruh. Diduga karena cedera yang terjadi lebih dahulu dibanding bola mata kanan," terangnya.

Supervisor Program Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan YELSOCP, drh Citrakasih Nente menyampaikan, pihaknya bukan pertama kali menerima Orangutan dengan puluhan peluru. Bahkan ada sampai lebih dari seratus peluru di dalam tubuhnya.

"Penggunaan senapan angin untuk berburu satwa liar masih terus terjadi. Hanya kurun waktu 10 tahun YEL-SOCP sudah menerima sekitar 20 Orangutan yang menjadi korban senapan angin," ujarnya.

Ia menegaskan, perlu keseriusan dari pihak berwenang untuk menertibkan penggunaan senapan angin sesuai peraturan yang telah ada. "Hal itu dilakukan untuk memastikan keadaan seperti Paguh dan Hope tidak terus berulang," tegasnya.

Manager Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan YEL-SOCP, Arista Ketaren menambahkan, mereka akan memberikan perawatan yang terbaik untuk Orangutan Paguh selama di Pusat Karantina dan Rehabilitasi SOCP.

"Karena kondisinya yang buta dia tidak mungkin bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Setelah kondisinya baik Paguh kemungkinan akan menjadi salah satu kandidat yang akan dipindahkan ke fasilitas di Orangutan Haven," tambahnya. 

(jw/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar