Peneliti: Proyek PLTA Batangtoru Berpotensi Bahayakan Orangutan Tapanuli

Peneliti: Proyek PLTA Batangtoru Berpotensi Bahayakan Orangutan Tapanuli

Sidang lanjutan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan pada Senin (14/1)

(jw/csp)

Senin, 14 Januari 2019 | 16:03

Analisadaily (Medan) - Sidang lanjutan soal pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru kembali digelar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan pada Senin (14/1).

Dalam sidang lanjutan ini, sebagai penggugat WALHI Sumut menghadirkan saksi ahli dari Universitas John Moores Liverpool, Prof Serge Wich.

Dalam keterangannya, Serge mengatakan, proyek pembangunan PLTA Batangtoru merupakan hal yang sangat membahayakan kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli. Hal ini karena lokasi proyek pembangunan akan memisahkan beberapa blok yang menjadi wilayah jelajah Orangutan.

"Orangutan dari blok Timur ke Blok Barat dan juga blok Sibual-buali akan terputus," kata Prof Serge, yang juga terlibat dalam proses identifikasi Orangutan Tapanuli.

Serge menjelaskan terdapat masing-masing populasi orangutan pada ketiga blok. Secara khusus, pada lokasi proyek pembangunan PLTA Batangtoru merupakan blok dengan jumlah populasi Orangutan terbesar yakni blok Barat.

Karena itulah keberadaan Orangutan Tapanuli pada blok itu akan semakin terdesak dengan adanya pembangunan proyek pembangkit listrik. "Masing-masing blok harus terkoneksi, karena wilayah masing-masing yang sangat sempit," ujarnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah Indonesia untuk perlindungan Orangutan sudah sangat baik. Ini ditandai dengan masuknya Orangutan dalam kategori spesies dilindungi. Akan tetapi, aturan tersebut harus dipertegas lagi termasuk bidang konservasi hutan selaku habitat Orangutan.

"Memang membunuh Orangutan sudah dilarang. Tapi, merusak habitatnya dan melakukan proyek yang berpotensi merusak habitatnya masih kurang tegas. Padahal itu juga akan membunuh Orangutan. Harusnya proyek itu dipindahkan ketempat lain," paparnya.

Sebelumnya, dalam mendengarkan keterangan Walhi Sumut juga mendatangkan ahli Geofisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Teuku Abdullah Sanny.

Ia menyebut, PLTA Batangtoru berada dalam zona merah patahan yang sangat berbahaya. Jika terjadi gempa banyak potensi bahaya yang akan terjadi.

(jw/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar