Pemerintah Harus Berperan Aktif Kurangi Angka Pekerja Anak

Pemerintah Harus Berperan Aktif Kurangi Angka Pekerja Anak

Senior Officer Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), Misran Lubis

(aa/eal)

Rabu, 13 Juni 2018 | 10:55

Analisadaily (Medan) - Dunia internasional memperingati Hari Menentang Pekerja Anak setiap tanggal 12 Juni.

Senior Officer Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumatera Utara, Misran Lubis mengatakan, peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak ini dicetuskan oleh ILO pada tahun 2002 bersama organisasi-organisasi internasional lainnya.

"Tujuannya tak lain untuk mengkampanyekan secara terus menerus bahwa situasi pekerja anak atau di bawah umur masih sangat banyak," kata Misran kepada Analisadaily.com, Selasa (13/6).

Menurutnya, fenomena pekerja anak tidak hanya terjadi di negara-negara lain, tapi juga di Indonesia. Namun tidak seperti angka kekerasan terhadap anak, saat ini belum ada angka resmi pekerja anak di Indonesia.

"Meski demikian saya perkirakan jika angka kemiskinan masih tinggi, maka potensi pekerja di bawah umur juga tetap tinggi. Sebab faktor utamanya adalah ekonomi," sebutnya.

"Tujuan utama anak-anak menjadi pekerja untuk membantu ekonomi keluarga agar taraf hidup mereka menjadi lebih baik," jelasnya.

Menurut sebuah riset, sambung Misran, angka pekerja anak di Sumatera Utara cukup tinggi. Menurutnya, hal itu terjadi di kawasan perkebunan karena umumnya anak membantu orang tua bekerja.

"Oleh karena itu kami meminta di dalam Hari Dunia Menentang Pekerja Anak ini pemerintah daerah maupun pusat dapat lebih berperan aktif untuk mencegah angka pekerja anak di Indonesia," ucapnya

"Sebab bagaimanapun mereka masih memiliki masa depan. Karena kebanyakan pekerja anak ini terkadang harus mengorbankan pendidikan," tandasnya.

(aa/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar