Pelemahan Rupiah dan IHSG Masih Berlanjut

Pelemahan Rupiah dan IHSG Masih Berlanjut

(Pixabay)

(rel/rzd)

Selasa, 11 Desember 2018 | 16:41

Analisadaily (Medan) - Tekanan pasar saham pada perdagangan hari  ini, Selasa (11/12), masih berlanjut, terlebih di Asia. Indeks KL Stock Exchange turun 0,39%, Kospi melemah 0,113%, Nikkei melemah 0,33% dan STI turun 0,5%.

Sedangkan di BEI, pergerakan IHSG juga mengalami hal yang sama. IHSG ditutup turun 34 poin atau turun 0,56% di level 6.076. Level tertinggi IHSG berada di level 6.106 dan terendah di level 6.069.

Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin mengatakan, dari dalam negeri, pemerintah saat ini masih berupaya menjalin kerja sama dengan sejumlah negara untuk terus menopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Saat ini kerja sama Indonesia–China dan negara lainnya terus diupayakan memberikan peluang dan keuntungan yang besar bagi kedua pihak,” katanya.

Gunawan menerangkan, di sisi lain pergerakan mata uang Rupiah terhadap Dolar AS turun tajam. Hal ini menyebabkan Rupiah tertekan cukup kuat terhadap Dolar AS. Upaya pemerintah dalam menstabilkan Rupiah cukup responsif, namun hal ini belum memberikan perubahan yang maksimal terhadap nilai tukar Rupiah sendiri.

“Tampaknya saat ini pemerintah berharap instrumen keuangan berjalan maksimal untuk dapat menyelamatkan Rupiah dari keterpurukan. Hari ini, pelemahan Rupiah tercatat melemah 0,6% atau dikisaran level Rp.14.650/USD,” terangnya.

Gunawan menyebut, di sisi lain juga, guna menanggulangi defisit APBN 2018, pemerintah masih berpeluang menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN). Target pemerintah dalam memenuhi defisit APBN 2018 ini masih cukup besar.

Pergelaran SBN maupun SUN di Indonesia masih sangat diminati baik investor lokal maupun luar negeri. Hal ini menandakan fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong aman, sehingga diminati oleh kalangan investor.

“Penerbitan SUN secara berkala ini memang merupakan salah satu solusi untuk menutupi defisit APBN dan pembiayaan negara. Hanya saja frekuensi maupun rentang waktu yang digunakan pemerintah harus disesuaikan dengan kebutuhan agar dapat berjalan efektif dan maksimal,” sebutnya.

Selain itu, sinyal kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini memberikan penguatan nilai tukar Dolar terhadap mata utama lainnya. Mata uang Dolar Taiwan, Won dan Rupiah terlihat masih melemah meskipun beberapa mata uang lainnya dapat menguat terhadap Dolar AS.

Gunawan menjelaskan, nantinya apabila The Fed menaikkan suku bunganya kembali, Rupiah akan menguji ketahanan apakah akan semakin terpuruk atau bertahan, atau justru berhasil rebound terhadap kekuatan dolar AS dengan bantuan transaksi DNDF dan sejumlah kebijakan lainnya yang mendukung penguatan Rupiah.

“Siasat dalam menyikapi kenaikan suku bunga The Fed nantinya menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah tuntutan masyarakat dalam peningkatan nilai tukar mata uang Rupiah yang kian terpuruk,” tandasnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar