Pelecehan Seksual Anak, Wagubsu: Saya Sangat Marah

Pelecehan Seksual Anak, Wagubsu: Saya Sangat Marah

Wagubsu, Brigjen TNI (Purn) Hj Nurhajizah Marpaung.

(jw/rzp)

Jumat, 24 Maret 2017 | 18:19

Analisadaily (Medan) - Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu), Brigjen TNI (Purn) Hj Nurhajizah Marpaung mengatakan, sangat marah jika anak-anak tersakiti. Apalagi sampai menjadi korban asusila.

Pernyataan Wagubsu terkait kasus asusila yang terjadi di Desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dalam kasus ini, 30 anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila yang dilakukan SAH (35).

"Anak-anak itu tanggung jawab orang tua dan pemerintah. Sudah ada aturan dan undang-undangnya, kita tinggal melaksanakan. Saya sangat marah jika anak-anak tersakiti," kata Nurhajizah, Jumat (24/3).

Namun begitu, wanita yang baru dilantik Presiden Jokowi menjadi Wagubsu beberapa waktu lalu itu tetap menyerahkan persoalan tersebut kepada lembaga hukum dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di Republik Indonesia.

"Semuanya sudah ada hakimnya. Kalau kita bilang hukum berat, sudah ada prosedur, mekanisme dan aturannya. Hanya kita mohon, untuk anak-anak, wanita atau ibu, suaminya saja tidak boleh nyakitin, apalagi orang lain," sebutnya.

Mengenai peran pemerintah soal perlindungan terhadap anak dan wanita, Nuhajizah menyebut, di setiap daerah masing-masing kabupaten dan kota sudah disiapkan. Tidak hanya soal pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak, bahkan untuk anak-anak terlantar juga ada diatur.

"Hanya saja kita belum maksimal menjalankannya, ini yang akan kita tuntut maksimal untuk ke depannya," sebutnya.

Kasus pelecehan seksual yang terjadi di Tapsel tersebut sempat menggegerkan warga. Dari laporan warga ke pihak kepolisian, awalnya jumlah korban 17, kemudian pengakuan pelaku ada 30 anak.

Selanjutnya dalam pengembangan pihak kepolisian, ternyata pelaku yang sempat melarikan diri tersebut telah melakukan tindakan bejat itu kepada 42 anak, 30 anak di Tapsel, lima anak di Jakarta dan tujuh anak di Langkat.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

"Pelaku dijerat pasal perlindungan anak, hukumannya maksimal 15 tahun penjara," kata Kapolres Tapsel AKBP Rony Samtama.

(jw/rzp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar