Pelaku Penganiaya Pensiunan Polisi Diamankan Polda Sumut

Pelaku Penganiaya Pensiunan Polisi Diamankan Polda Sumut

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol. Agus Andrianto, memaparkan kasus penganiayaan terhadap pensiunan polisi dan keluarganya di Mapolda Sumut, Senin (17/6)

(jw/eal)

Senin, 17 Juni 2019 | 15:47

Analisadaily (Medan) - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara mengamankan tujuh pelaku penganiayaan pensiunan polisi dan empat keluarganya yang terjadi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol. Agus Andrianto, mengatakan ketujuh orang yang diamankan adalah ST (66) yang merupakan otak pelaku, W alias Oka (46) sebagai perekrut, BH (52), JG alias Yudi (40), BST (21), BSG (26) dan MT (61).

"Dari ketujuh pelaku, lima orang diringkus pada 15 Juni 2019 dari berbagai lokasi di Sumatera Utara. Sedangkan dua lainnya ditangkap di luar Sumatera Utara," kata Agus di Mapolda Sumut, Senin (17/6).

Agus menjelaskan bahwa para pelaku sudah merencanakan penganiayaan sejak Maret 2019 dan menjalankan aksinya pada Mei 2019. Awal masalahnya dilatarbelakangi sengketa tanah seluas lima hektare.

"Permasalahan diawali korban dengan ipar tersangka dan motifnya dendam," jelasnya.

Dalam aksinya, para pelaku menganiaya korban Bangkit Sembiring (58) serta empat anggota keluarganya hingga mengalami luka parah. Bangkit dan anaknya, Semangat Sembiring (21), mengalami luka bacokan di kepala dan badan.

"Sedangkan istrinya Ristiani Samosir (48) dan anaknya Abraham Sembiring (10) mengalami luka pukulan benda tumpul di bagian kepala. Sementara itu anak perempuan korban Maria Keke Sembiring (17) mengalami sakit di bagian punggung karena ditendang pelaku," jelas Agus.

Agus mengungkapkan bahwa aksi para pelaku dilakukan pada 31 Mei 2019 di Dusun Bukit Lau Kersik, Desa Lau Kersik, Kecamatan Gunung Sitember, Kabupaten Dairi. Setelah melakukan penganiayaan, para pelaku melarikan diri ke Kota Medan, Kabupaten Langkat hingga ke Provinsi Aceh.

"Tiga pelaku diberi tindakan tegas karena melawan. Mereka mendapatkan upah lima puluh juta rupiah," ungkapnya.

Dari tangan para pelaku turut diamankan alat bukti berupa parang, linggis, martil yang mereka beli setelah menerima upah Rp 50 juta. Sementara mobil rental yang digunakan saat menganiaya korban juga berpeluang disita.

"Para pelaku dijerat dengan pasal pembunuhan berencana. Kita berikan pasal pembunuhan berencana itu meski korban belum meninggal. Karena ada perencanaan," tegas Agus.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar