Pasokan Bahan Olahan Karet di Sumut Semakin Terbatas

Pasokan Bahan Olahan Karet di Sumut Semakin Terbatas

Ilustrasi.

Senin, 5 November 2018 | 17:08

Analisadaily (Medan) - Pasokan bahan olahan karet spesifikasi teknis atau bokar di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara (Sumut) untuk industri karet remah (Crumb Rubber) semakin terbatas. Pabrik Crumb Rubber mendapatkan bokar lebih dari 90 persen berasal dari karet rakyat.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, mengatakan, pasokan bokar ke Crumb Rubber semakin terbatas karena sumber dari petani banyak yang sudah menebang pohon karetnya, karena dianggap tidak menguntungkan lagi.

“Bagi pabrik Crumb Rubber, untuk mengantisipasi kurangnya bahan baku sudah ada yang berhenti operasi dan sebagian mengurangi hari kerja. Sebagian sekarang sudah ada yang menjadi operasinya satu kali dalam seminggu,” kata Edy, Senin (5/11).

Edy menyebut, jika melihat harga saat ini di pasar global masih bertahan rendah, sudah lebih dari setahun bertahan rendah. Saat ini sekitar 125 sen USD per kilogram untuk jenis TSR 20. Di tahun 2017 lalu rata-rata di 1,65 untuk TSR 20.

“Jadi di pasar global masih bertahan rendah dengan kecenderungan ada penurunan. Seiring dengan penurunan di pasat global, harga di tingkat petani juga menurun. Saat ini sekitar Rp 6000 per kilogram untuk yang kadar karet keringnya sekitar 50 persen,” sebutnya.

Diungkapkan Edy, diharapkan kepada pihak yang dalam hal ini adalah pihak industri ban di pasar global dapat bersepakat untuk menetapkan harga dasar pembelian karet di bursa berjangka karet, sehingga  petani-petani sebagai penyuplai pasokan bahan baku ke industri Crum Rubber dapat tetap berproduksi.

Kondisi sulit di industri karet tak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga dirasakan di negara produsen karet lainnya seperti Thailand dan Malaysia. Namun karena produktivitas dan industri produk, jadi di dua negara lebih maju, maka tidak terlalu dirasakan seperti di Indonesia.

“Yang pasti permasalahan di perkaretan Sumut maupun Indonesia harus dapat perhatian serius agar petani dan pengusaha karet kembali bangkit dan devisa dari kelompok barang itu naik kembali,” tandasnya.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar