Para Peneliti Minta Presiden Selamatkan Populasi Orangutan Tapanuli

Para Peneliti Minta Presiden Selamatkan Populasi Orangutan Tapanuli

Orangutan Tapanuli

(jw/eal)

Selasa, 28 Agustus 2018 | 22:30

Analisadaily (Medan) - Spesies Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) yang populasinya berada di hutan Batang Toru yang meliputi Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Tapanuli Selatan (Tapsel) sudah terancam punah. Saat ini spesies Orangutan langka tersebut tinggal sekitar 800 ekor.

Keberadaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru menjadi salah satu penyebab rusaknya ekosistem yang kemudian jadi ancaman besar bagi kepunahan Orangutan Tapanuli.

Menanggapi hal tersebut, seorang akademis sekaligus peneliti dari Fakultas Kehutanan USU, Onrizal mengatakan, Orangutan Tapanuli harus diselamatkan dari kepunahan. Apalagi sudah ada 25 ilmuwan dunia yang melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo. Isi surat tersebut meminta Jokowi agar mengambil kebijakan dalam menyelamatkan Orangutan Tapanuli dari kepunahan serta perkembangan yang mengikutinya.

"Saya bagian dari 25 ilmuwan itu. Kami menyerukan desakan kepada Presiden Jokowi untuk menyelamatkan populasi Orangutan Tapanuli," kata Onrizal, Selasa (28/8).

Onrizal menegaskan bahwa PLTA Batang Toru menjadi ancaman utama kepunahan populasi yang ada di kawasan hutan Tapanuli.

"Tak hanya Orangutan, tetapi juga mengancam 100 ribu penduduk yang hidup di sekitar habitat Batang Toru," tegasnya.

Onrizal yang juga ahli ekologi dan konservasi hutan tropika itu juga mengkritisi kampanye dari perusahaan yang diduga melindungi kepentingan demi mendapatkan keuntungan keuangan bagi pihak-pihak yang berdiri di balik pembangunan PLTA Batang Toru.

"Kampanye hitam oleh ilmuwan asing harus dihilangkan, begitulah kira-kira semangat mereka," ucapnya.

Onrizal juga menuturkan bahwa saat ini PLTA Batang Toru sedang direncanakan di habitat Orangutan Tapanuli yang sebelumnya sudah semakin menyusut. Sejak awal era 2000-an, Prof Jatna Supriatna, ahli konservasi biodiversitas Universitas Indonesia beserta tim dan dirinya sudah memulai kajian Orangutan beserta habitatnya di hutan Batang Toru.

"Pembangunan infrastruktur PLTA Batang Toru seperti jalan, bendungan, saluran bawah tanah dan jalur bawah tanah akan menyebabkan fragmentasi habitat dan deforestasi yang pada akhirnya akan mendorong percepatan kepunahan Orangutan Tapanuli," tuturnya.

Menurutnya, hutan Batang Toru juga merupakan habitat tersisa dari harimau Sumatera, mamalia besar. Kondisinya juga memprihatinkan untuk terancam punah terutama akibat kehilangan dan kerusakan hutan. Dan bila semakin banyak habitat harimau Sumatera dihancurkan, maka konflik antara harimau dan manusia akan semakin meningkat. Tahun ini adalah puncak jumlah konflik harimau dan manusia di Sumatera termasuk di Sumatera Utara.

"Ini adalah potensi kegagalan untuk mengatasi bencana yang kemungkinan akan dirasakan oleh penduduk yang tinggal di wilayah hilir. Belum lagi fakta lain bahwa Pulau Sumatera terletak di atas patahan gempa paling aktif. Tentu bila itu terjadi akan memicu bencana yang lebih besar dan masyarakat setempat akan menjadi korban pertama," pungkas Onrizal.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar