MUI Sumut Angkat Bicara Soal Isu Kiamat di Ponorogo

MUI Sumut Angkat Bicara Soal Isu Kiamat di Ponorogo

Kantor MUI Sumut

(jw/eal)

Jumat, 15 Maret 2019 | 20:33

Analisadaily (Medan) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara angkat bicara terkait isu hari kiamat yang membuat puluhan masyarakat Ponorogo hijrah ke Malang, Jawa Timur.

Sekretaris Umum MUI Sumatera Utara, H. Ardiansyah, mengatakan bahwa isu hari kiamat di Ponorogo sangatlah tidak masuk akal. Apalagi sampai ada 52 warga yang mengungsi untuk menyelamatkan diri ke daerah lain.

"Ini di luar akal kita. Karena kiamat itu Allah yang menentukan, bukan manusia," kata Ardiansyah kepada Analisadaily.com, Jumat (15/3).

Menurut Ardiansyah, masyarakat yang percaya dengan isu seperti itu adalah masyarakat yang pemahaman agamanya sangat rendah.  

"Menurut saya karena saat ini pemahaman agama sangat rendah. Baik pemahaman akidah maupun tauhid. Sekarang ini, apalagi di daerah yang terpencil cepat sekali dipercaya dengan hal yang seperti itu," ungkapnya.

Selain faktor minimnya akidah dan tauhid, Ardiansyah menjelaskan bahwa faktor lain yang menjadi penyebab adalah politik, sosial dan ekonomi. Menurutnya faktor-faktor itu bisa membuat manusia kehilangan arah.

"Apalagi sekarang ini sudah mulai gonjang-ganjing dalam hal politik, sosial, ekonomi membuat masyarakat seperti kehilangan arah sehingga ketika ada orang yang dianggap mereka percayai, mudah dipengaruhi oleh orang yang dipercayai tersebut. Seperti contohnya di Ponorogo," jelasnya.

Oleh karena itu, MUI mengimbau kepada masyarakat agar selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu juga harus bisa membentengi diri dengan akidah dan akhlak.

"Saya mengimbau agar masyarakat itu bertanya kepada ahlinya, misalnya ada permasalahan yang muncul di masyarakat, baik itu dari media sosial atau kabar dari mulut ke mulut atau ada ajaran tertentu yang salah. Bertanyalah kepada MUI ataupun kepada para ulama agar tidak salah langkah," imbau Ardiansyah.

"Karena bicara hari kiamat itu yang pasti tahu hanya Allah, tidak ada yang bisa mengetahuinya, bahkan Nabi Muhammad tidak tahu kapan hari kiamat. Apalagi manusia, sudah tidak benar itu," tegasnya.

Seperti diketahui, isu kiamat menghebohkan warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sekitar 52 warga di desa tersebut mengungsi dan mencari perlindungan ke pondok pesantren yang ada di Malang.

Bahkan puluhan masyarakat tersebut telah menjual barang-barang mereka untuk membeli sebuah pedang dari gurunya sebagai senjata untuk melindungi diri.

(jw/eal)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar