'Menunggu Datangnya Pemimpin Kota Medan'

'Menunggu Datangnya Pemimpin Kota Medan'

Guru Besar USU, Prof. Dr. OK Saidin

(hers/eal)

Minggu, 19 Mei 2019 | 09:44

Analisadaily (Medan) - Beberapa tahun belakangan ini, kita merindukan sosok pemimpin Kota Medan yang totalitas bekerja untuk membangun kota ini.

Medan hari ini menjadi kota yang tak layak untuk dihuni. Jalan yang berlubang di sana sini, tumpukan sampah di setiap pojok kota dan terkadang berserakan di jalan raya. Banjir yang tak kunjung usai, walaupun pekerjaan membangun drainase tak pernah henti sepanjang tahun.

Kemudian pajak bumi dan bangunan yang mahal namun pungutan siskamling tetap tinggi pertanda kota ini tidak aman.

Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. OK Saidin, mengenai segelintir keadaan Kota Medan saat ini.

Lebih jauh OK Saidin memaparkan apakah kondisi ini ada hubungannya dengan pemimpin dan kepemimpinan?
Menurutnya karakteristik pemimpin dan kepemimpinan dalam satu organisasi sangat menentukan jalannya roda organisasi berikut capaian-capaiannya. Apa yang dihadapi oleh banyak kota-kota besar hari ini adalah kegagalannya dalam memobilisasi berbagai potensi yang ada di sekitarnya.

"Kota Medan menyembunyikan banyak potensi yang jika dimobilisasi dengan baik, kota ini akan tiga kali lebih baik dari apa yang kita rasakan dan yang kita saksikan hari ini. Inilah tugas pemimpin. Kepemimpinan Walikota hari ini bukan tidak baik, tapi dibanding dengan potensi yang tersedia tidak sebanding dengan capaiannya. Kita patut bersyukur kepada Bapak Bachtiar Ja'far, Abdillah, dan Dzulmi Eldin yang telah menggagas dan meletakkan blue print pembangunan Kota Medan yang mengarah pada kota metropolitan," kata OK Saidin dalam keterangannya, Minggu (19/5).

Akan tetapi, sambungnya, semua itu tak dapat diwujudkan dengan serta-merta. Selangkah demi selangka telah ditapaki dan sedikit demi sedikit tampak sudah terwujud. Hanya saja belum terintegrasi. Medan masih terlihat seperti kumpulan "kampung-kampung" kecil, belum terlihat nuansa dan aroma kota modern. Medan seperti tumpukan desa-desa kecil. Desa yang berasa kota, seperti disertasi berasa skripsi. Belum masuk pada capaian standard sembilan atau belum masuk standard kota modern.

Dulu dalam sejarah terbentuknya Kota Medan, Sultan Deli Tuanku Makmun Al Rasyid membuka peluang untuk masuknya imigran-imigran dari luar wilayah kerajaan.

Bagi pendatang dari Minangkabau yang pandai kuliner ditempatkan di wilayah sekitar istana yakni Kota Ma'sum. Untuk pendatang dari tanah Mandailing yang pandai mengaji dan berdakwah ditempatkan di kawasan Kampung Baru dan Silalas sekitarnya.

Mereka yang datang dari Aceh dan sekitarnya ditempatkan di kawasan Darussalam, Sei Sikambing dan sekitarnya. Mereka yang pandai berdagang dan datang dari Arab ditempatkan di sekitar Glugur, Krakatau dan Bilal. Sementara mereka yang pekerja keras dan pandai mengurusi bidang olahraga yang datang datang dari India di tempatkan di kawasan Polonia dan Kampung Madras.

Kemudian etnis Tionghoa yang datang dari Pulau Pinang dan pandai berbisnis serta berjiwa entrepreneur (wirausaha) di bidang konstruksi ditempatkan di kawasan Kesawan.

Imigran-imigran ini saling berinteraksi dan bersinergi membangun Kota Medan. Jadilah Medan dijuluki sebagai "Parisj van Soematra" di Bumi Kerajaan Deli. Kota yang layak untuk dihuni. Kota yang mengundang masuknya para investor.

"Berdirilah unit-unit usaha dan infrastruktur besar seperti jaringan telepon (Telefonken Maatschappij), jaringan jalan kereta api (Deli Spoorweg Maatschappij), jaringan air bersih (Ajer Bersih Maastchappij), restoran (Tip Top) serta hotel (de Boer Hotel) dan lain-lain," sambungnya.

Pola kepemimpinan yang dijalankan waktu itu memang cocok pada zamannya dengan segala dinamikanya. Meskipun pasca kemerdekaan banyak yang tidak sinkron dengan blue print Kota Medan yang sudah dirancang oleh para ahli yang dipersiapkan oleh Daniel Mackay sejak ia menjabat sebagai Walikota pertama 1 Mei 1918.

"Kita tak lagi menemukan jaringan kereta api Medan-Deli Tua, Medan-Pancur Batu. Dampaknya di tahun-tahun selanjutnya Medan menghadapi kemacetan karena angkutan massa itu diabaikan."

Kepemimpinan memang melulu urusan sciences, tetapi di dalamnya ada seni. Seni memimpin itu tidak dapat dipelajari. Itu talenta atas berkat dari Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya beda pemimpin berbeda pula capaiannya. Tentu sekali lagi Medan berterima kasih pada pemimpin terdahulu.

Bagaimana dengan kepemimpinan Kota Medan mendatang?

"Kita coba menelisik dengan kondisinya hari ini. Kita saksikan pola-pola kepemimpinan yang dijalankan hari ini masih mengacu pada model kepemimpinan yang mengikuti pola-pola lama. Salahkah ini? untuk ukuran hari ini tentu tidak semuanya salah," ulas OK Saidin.

Menurutnya Kota Medan menuntut hal yang lebih dari itu. Standard kesejahteraan penduduk kota terus berubah. Oleh karena itu perlu pembaharuan.

"Tak ada terobosan baru, padahal kita sudah memasuki Era Revolusi Industri 4.0 bahkan Jepang sudah memasuki Era Revolusi Industri 5.0. Pola-pola kepemimpinan lama telah terdisrupsi. Telah tergeser dan tergusur. Suatu fakta bahwa di era majunya teknologi informasi dan digital ini telah mengubah wajah dunia, wajah peradaban," paparnya.

Jika ini tidak diikuti oleh pemimpin Kota Medan dan seluruh stafnya, OK Saidin khawatir kota ini semakin hari semakin terpuruk. Medan akan tetap bertumbuh, sekalipun pemerintahnya tidak bekerja.

Menurutnya untuk mencapai angka pertumbuhan 5% tidak perlu Dinas Perdagangan dan Perindustrian atau Dinas Pasar yang bekerja. Angka pertumbuhan ekonomi 5% itu cukup digerakkan oleh pedagang sayur mayur, ikan dan beras serta kebutuhan bahan pangan lainnya.

Tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menjadikan Kota Medan layak dan nyaman untuk dihuni. Inilah tugas Walikota di masa datang.

"Oleh karena itu, jika kota ini ingin dijadikan sebagai tempat yang layak untuk dihuni, maka jatuhkanlah pilihan kepada orang yang pantas dan patut untuk mengemban amanah itu. Kepada orang yang memiliki komitmen demokrasi bahwa semua kita layak hidup di kota ini, bukan hanya untuk sebahagian orang. Jatuhkan pilihan kepada orang yang memiliki integritas yang memiliki kesolehan sosial dan solidaritas tinggi dan berempati untuk kaum tertindas, dhu'affah mustadh'affin," imbaunya.

"Jatuhkan pilihan pada sosok pemimpin yang berani memporak-porandakan kebathilan dan kedzaliman. Calon pemimpin itu ada pada diri OK Edy Ikhsan. Calon pemimpin itu ada di hadapan kita. Tokoh akademisi dan pejuang kemanusiaan yang sudah malang melintang. Pejuang demokrasi yang menghabiskan 2/3 usianya untuk kemaslahatan anak-anak Indonesia korban kekerasan, korban ketidakberpihakan sistem sosial, korban bencana alam. Denyut nadi beliau adalah denyut nadi kemanusiaan," sebut OK Saidin.

"Siapapun akan mendapat keberuntungan jika bersentuhan pemikiran dengan beliau. Medan pun akan mendapat keberuntungan besar jika warganya mempercayakan kepemimpinan kota ini kepada beliau," tandasnya.

(hers/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar