Menulis Berita Bohong Dosa Besar Bagi Jurnalis

Menulis Berita Bohong Dosa Besar Bagi Jurnalis

Ketua Dewan Kehormatan (DK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara, Sofyan Harahap (paling kanan).

(eal/rzd)

Sabtu, 21 Januari 2017 | 13:07

Analisadaily (Medan) - Ketua Dewan Kehormatan (DK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara, Sofyan Harahap, memaparkan persoalan berita bohong atau hoax yang semakin masif. Paparan disampaikannya dalam acara pendidikan pers di Kantor PWI Sumut, Jalan Adinegoro, Medan.

Sofyan mengatakan, berita bohong merupakan satu dari lima hal yang harus dihindari oleh wartawan. Sebab menurutnya, menulis berita bohong merupakan dosa besar bagi insan pers.

"Sejatinya, dalam konsep jurnalistik konvensional, berita bohong tidak akan muncul karena sudah dipagari oleh dewan etik. Namun berita bohong atau hoax bisa dimunculkan melalui media sosial," kata Sofyan, Sabtu (21/1).

Lebih jauh dia menjelaskan, ada empat hal yang menjadi alasan mengapa media mengalami evolusi penurunan. Salah satunya karena media sosial saat ini lebih booming akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap media mainstream.

"Kita bisa lihat, media mainstream sering tidak memberikan informasi yang diinginkan oleh masyarakat, sehingga masyarakat mencari saluran informasi dari wadah yang lain, termasuk media sosial," paparnya.

Menurut Sofyan, ada kemungkinan media sosial ke depan akan lebih masif dalam mempengaruhi masyarakat. Hal ini dikarenakan media mainstream sering mendapat intervensi dari pengusaha, sehingga mempengaruhi kredibilitas media mainstream itu sendiri.

"Berita bohong jika dikemas secara canggih dan terus menerus dimuat, maka akan diyakini kebenarannya oleh masyarakat," tandasnya.

(eal/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar