Menpar Arief Yahya Undang Investor Pariwisata Tiongkok

Menpar Arief Yahya Undang Investor Pariwisata Tiongkok

Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Times Indonesia)

(rel/eal)

Sabtu, 27 Februari 2016 | 14:09

Analisadaily (Jakarta) - Ada poin penting dari wawancara khusus Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya, dengan jaringan televisi terbesar CCTV4, radio CRI (China Radio International), CNBN (China International Broadcasting National) di Gedung Sapta Pesona, Jalan Merdeka Barat, Jumat (26/2) kemarin.

"Kami mengundang investors yang tertarik untuk menanamkan modal di bidang pariwisata ke Indonesia," undang Arief Yahya.

tatemen itu muncul begitu Menpar Arief Yahya ditanya soal proyeksi 2 juta wisman asal Tiongkok di tahun 2016 dan 20 juta wisman di 2019. Di mana komposisinya, 50% dari jumlah 20 juta wisman itu, berasal dari Negeri Tirai Bambu.

"Apakah proyeksi itu masih berlaku? Apa tidak direvisi? Karena pertumbuhan ekonomi di Tiongkok sendiri sedang mengalami tekanan besar saat ini?" tanya para wartawan.

“Tidak! Kami tetap optimis, sekalipun tertekan, pertumbuhan Tiongkok masih sangat tinggi,” ungkap Mantan Dirut PT Telkom ini.

Dia mencontohkan, pada tahun 2014, outbond Tiongkok yang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri setiap tahun ada sekitar 100 juta orang. Angka itu naik di 2015, dan menjadi jumlah wisatawan terbesar di dunia saat ini.

Karena itu semua negara banyak melakukan promosi pariwisata ke Tiongkok guna menarik wisatawan agar datang ke negara mereka.

"Yang masuk ke Indonesia baru 1%, atau sekitar 1,2 juta orang. Masih terlalu kecil size-nya dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh Tiongkok," tambah Arief.

Sementara Thailand, sesama negara ASEAN yang berada di sebelum utara Malaysia, sudah menembus 8 juta wisatawan asal Tiongkok.

"Kita masih kalah jauh dari Thailand. Kita harus belajar secara profesional dengan Thailand. Kita kalah secara jarak, kita kalah dari sisi aksesibilitas. Jika naik pesawat dari Tiongkok ke Thailand hanya butuh 2-3 jam saja. Sedangkan ke Denpasar dan Jakarta, direct flight pesawat Tiongkok-Jakarta dan Tiongkok-Denpasar itu hanya 40%, sisanya 60% masih transit ke Singapura dan Kuala Lumpur sebelum terbenang ke Indonesia," tandasnya.

Ketika ditanya terkait bagaimana hubungan antara Indonesia dan Tiongkok sejauh ini, Arief mengakatakan kerjasama yang terjalin antar kedua negara selama ini sangat baik.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, sudah tiga kali ke Indonesia, bertemu dengan Presiden RI. Terakhir pada April 2015 saat menghadiri puncak perayaan Konverensi Asia Afrika di Bandung.

Saat itu, Presiden Joko Widodo sudah meminta secara khusus agar target 20 juta wisman ke Indonesia yang 50% atau 10 jutanya berasal dari Tiongkok. Presiden Xi pun mengiyakan dengan angka tersebut.

Menpar Arief Yahya pun menindaklanjuti pertemuan kedua pemimpin negara itu dengan bertemu Chairman CNTA-China National Tourism Administration atau Menpar Tiongkok, Mr Li Jinzao. Tiga kali Arief berdialog khusus dengan Mr Li di Baijing, Xian dan Kunming.

"Kami mendukung Silk Road atau Jalur Sutera-nya Tiongkok. Mereka juga mensupport Jalur Laksamana Cheng-Ho yang dilauncing Indonesia," tutur peraih Marketeer of The Year 2013 ini.  

Jalur Cheng-Ho itu akan melintasi Laut Tiongkok Selatan dan masuk ke Aceh, Batam-Bintan, Bangka- Belitung, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya dan Bali.

"Jadi, kedua negara memang sudah memiliki historis panjang, ratusan bahkan jutaan tahun yang silam. Karena itu, banyak artefak dan peninggalan sejarah terkait hubungan dagang Indonesia-Tiongkok. Karena itu silakan berinvestasi bidang pariwisata di Indonesia," jelas Arief Yahya.

(rel/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar