Menpar Arief Yahya Resmi Buka The Kaldera-Toba Nomadic Escape

Menpar Arief Yahya Resmi Buka The Kaldera-Toba Nomadic Escape

Peresmian pembukaan The Kaldera-Toba Nomadic Escape.

(jw/rzd)

Kamis, 4 April 2019 | 22:45

Analisadaily (Medan) - Menteri Pariwisata, Arief Yahya, resmi membuka The Kaldera-Toba Nomadic Escape di Lahan Zona Otorita Pariwisata Danau Toba, Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pelepasan burung merpati.

Kedatangan Menpar bersama Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara, Staff Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media, Don Kardono, juga Ketua Tim Percepatan 10 Bali Baru, Hiramsyah S Thaib. Hadir juga kepala daerah sekitar Danau Toba, dan tamu undangan lainnya disambut dengan Tari Tor-Tor.

Rombongan ini diterima Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo, dan Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism Waizly Darwin. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, lahan The Kaldera bahkan lebih luas dari KEK Nusa Dua dan Tanjung Kelayang.

"Jadi harus dipahami, The Kaldera Toba Nomadic Escape itu berada di kawasan Toba Caldera Resort. Lebih luas dari Nusa Dua dan Tanjung Kelayang," ucapnya, Kamis (4/4).

Menpar juga menjelaskan alasan membangun nomadic tourism di kawasan Danau Toba tentu dengan alasan.

"Tentu ada alasan mengapa kita bangun The Kaldera ini. Saya menyebutnya sebagai nomadic tourism. Artinya bisa berpindah pindah. Kenapa bisa berpindah? Karena membangun amenitas yang tetap itu butuh waktu yang cukup lama," jelasnya.

Selain itu, menurut Menpar, membangun sebuah amenitas seperti hotel berbintang butuh waktu hingga lima tahun.

"Dan mungkin saya tidak akan menikmati hasil dari pembangunan itu. Karena butuh watu lama. Sebagai solusi, kita hadirkan nomadic tourism. Saya yakin solusi ini untuk selamanya," tuturnya.

Dengan karakternya, The Kaldera dinilai sangat cocok untuk menerapkan nomadic amenitas.

"Jadi, kita membuat klasifikasi untuk wisata nomadic ini. Seperti nomadic atraksi kita terapkan di Borobudur. Di Labuan Bajo, kita buat nomadic akses. Karena di sana dilengkapi dengan yacht dan lainnya. Tantangan The Kaldera adalah membuat atraksi di luar The Kaldera. Dan ini menjadi tugas Kepala BPDOT," terang Arif Yahya.

Menpar juga memberikan contoh nomadic tourism yang namanya sudah sangat populer. Namanya, Cikole Orchid Forest di Lembang, Jawa Barat. Fokus Orchid Forest adalah nomadic attraction.

"Karena, di sana ada acara live musik seperti Forchestra," katanya.

Dalam kesempatan itu, Menpar juga berharap Danau Toba bisa lebih menjual. Dan cara yang paling mudah adalah memakai 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas).

"Harus ada atraksinya. Kalau Kita ingin menjadikan Danau Toba destinasi utama, maka 3A harus kelas dunia. Yang ada saat ini baik atraksi budaya, manmade, alam semua bagus, belum mendunia," ungkapnya.

Arif menambahkan, Kemenpar sedang fight agar Danau Toba dapat sertifikat sebagai Unesco Global Geopark.

"Jadi, Kemenpar akan terus berupaya agar Danau Toba mendapatkan status Unesco Global Geopark," tegasnya.

(jw/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar