Menjaga Kelestarian Budaya Batak di Era Modernisasi

Menjaga Kelestarian Budaya Batak di Era Modernisasi

Pendiri Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB), M Tansiswo Siagian (kiri), Jimmi Siahaan, Prof. Dr. Albiner Siagian dan Prof. Dr. Hamonangan Tambunan, saat memberi keterangan dalam konferensi pers di Museum Negeri Sumatera Utara, Minggu (21/7)

(csp/eal)

Minggu, 21 Juli 2019 | 17:50

Analisadaily (Medan) - Kebudayaan batak semakin tergerus oleh perkembangan zaman, termasuk menurunnya kemampuan orang batak dalam menggunakan bahasa daerah.

Kegelisahan ini disampaikan Ketua Umum Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak, Prof. Albiner Siagian, dalam konferensi pers Pengukuhan Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB) dan penganugerahan Pande Ugari (PAGARI) Batak tahun 2019 di Museum Negeri Sumatera Utara, Minggu (21/7).

Dalam rangka menjaga dan melestarikan kebudayaan batak, lanjut Albiner, beberapa orang yang merasa gelisah terhadap kelestarian kebudayaan batak di era modernisasi membentuk yayasan ini.

"Salah satu yang kini menjadi tantangan kita misalnya, di kampung saja sekarang anak-anak sudah mulai berbahasa Indonesia. Padahal kalau dulu di kampung itu, anak-anak selalu berbahasa batak, meskipun di sekolah memang tetap berbahasa Indonesia. Tapi, bahasa sehari-hari tetap bahasa batak," kata Albiner Siagian.

Masih kata dia, dalam jangka pendek, fokus mengatasi permasalahan itu dengan menerbitkan buku-buku yang ditulis dalam bahasa batak, dan itu sudah dilakukan. Selanjutnya, akan dilakukan pengenalan kembali aksara batak kepada orang banyak, terutama pada anak-anak di daerah-daerah Tanah Batak atau di mana pun berada.

"Selain itu yayasan ini juga nantinya akan menuliskan adat istiadat di dalam budaya batak itu sendiri," sambung Albiner.

Awal Pembentukan Yayasan

Salah seorang penggagas YPKB, M. Tansiswo Siagian mengatakan, pembentukan ini berawal dari grup media sosial 'Palambok Pusupusu' yang merupakan perkumpulan orang-orang yang konsen terhadap pelestarian bahasa batak melalui tulisan.

Dari situ, kata dia, muncul usulan anggota grup agar melegalkan menjadi yayasan yang berbadan hukum agar dapat melaksanakan aksi nyata, tidak lagi sekadar tentang bahasa batak, tetapi meluas pada kebudayaan batak.

"Awalnya diajukanlah nama 'Palambok Pusupusu' tapi karena peraturan pemerintah, nama yayasan tidak bisa lagi bahasa daerah, maka disetujuilah nama Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak," papar Tansiswo yang juga penulis buku 'Ilu Ni Dainang'.

"Setelah kita rapatkan, pada saat pengurusan pendiriannya ke Kemenkumham, akhirnya kita sepakat namanya Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak. Nama yang sesuai dengan visi dan misi yayasan ini," tuturnya.

Beberapa tokoh pendiri yayasan ini di antaranya Prof. Dr. Abiner Siagian, Manguji Nababan, Dian Purba, Edison Pardede, Ir. Lassang Manahara Siahaan, Ir. Patar M. Pasaribu, Ir. Jannus Sibuea, Lesson Sihotang, Mangido Tua Nainggolan, dan Darman P Rajagukguk.

Ada juga Masnur Silaban, Prof. Dr. Hamonangan Tambunan, Candra Tandi R Siagian, Harkit M Sihombing, Mewaty Aruan, Ir. Alasan Lumbanraja dan masih banyak lagi yang datang dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi.

(csp/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar