Mengelola Batang Toru, Mendahulukan Kesejahteraan Rakyat Untuk Hutan Lestari

Mengelola Batang Toru, Mendahulukan Kesejahteraan Rakyat Untuk Hutan Lestari

(FOTO: Istimewa)

(rel/rzd)

Sabtu, 16 Februari 2019 | 19:11

Analisadaily (Sidempuan) - Direktur Program Perkumpulan PALAPA, Faisal Rizal mengatakan, sekitar awal Januari 2019, dirinya sempat melihat seorang petani menjemur kayu manis hasil kebunnya. Setelah kering, menunggu pembeli datang dari Kota Padang Sidempuan.

“Harga 1 Kilogram kayu manis antara Rp 35.000 sapai dengan Rp 40.000 per Kilogram. Setiap satu batang pohon kayu manis mendapatkan hasil kulit kayu manis antara 10 Kilogram sampai dengan 20 Kilogram, untuk masa panen antara 10 sapai dengan 15 tahun lamanya,” kata Faisal, Sabtu (16/2).

Menurutnya, ironis produktifitas kulit kayu manis dengan masa panen yang cukup lama, seorang petani hanya mendapat uang sebesar antara Rp 350.000 sapai dengan Rp 400.000 per pohon untuk rata-rata 15 tahun.

“Apakah ada yang Salah?  Dari hasil pengamatan dan diskusi kecil, maka petani sangat dirugikan, karena dua faktor. Pertama, harga yang ditetapkan tengkulak sangat murah, dan kedua, umur kayu manis terlalu lama dipanen. Padahal, kulit kayu manis yang baik umur 5 tahun,” ungkapnya.

Faisal menyebut, hal itu gambaran petani kayu manis di Desa Tanjung Dolok, Haunatas dan Aek Nabara, yang telah lama membudidayakan kayu manis. Wilayah ini masuk ke dalam ekosistem Batang Toru, yang membentang luas meliputi 3 Kabupaten (Tapteng, Tapsel, dan Taput) Sumatera Utara.

Diterangkan Faisal, indikator Ekosistem Batang Toru (EBT)  tetap terjaga ada beberapa hal, seperti sumber air masih bagus dan terus mengalir ke rumah-rumah, sawah-sawah, kolam-kolam ikan, masjid,  musala selama 24 jam.

Kondisi air yang cukup, desa-desa di EBT wilayah Tapsel, merupakan desa-desa swasembada beras,  artinya sawah produktif menghasilkan beras untuk kebutuhan konsumsi penduduk di EBT Tapsel. Ada sekitar 16 desa tersebar di 3 kecamatan.

“Hasil lainnya, warga setempat berasal dari kopi, nira aren, buah durian, perikanan air tawar, hasil hutan bukan kayu dan ada juga dari wisata desa,” terangnya.

Faisal mengungkapkan, menjaga hutan sudah dilakukan sejak lama. Bahkan menurut cerita sejak tahun 1919, beberapa desa telah menjaga hutan dan konservasi air untuk irigasi serta air bersih. Desa-desa ini terletak di Kecamatan Marancar, Sipirok.

Desa Haunatas, Tanjung Dolok,  Aek Nabara, merupakan salah satu tempat yang masih melakukan kearifan lokal menjaga hutan, sehingga dari pengalaman ini, desa-desa tetangga menjadikan isnpirasi dan contoh baik untuk ditiru di desa-nya.

“Untuk itu negara hadir, memberikan perlindungan dan hak kepada warga di 12 desa yang akan menerima manfaat sebanyak 3.000 kepala keluarga, dengan luas total hutan yang dikelola mencapai 10.000 hektare, melalui skema Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan (HKM),” tandasnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar