Mendagri: Berpotensi Memecah Bangsa Harus Lawan

Mendagri: Berpotensi Memecah Bangsa Harus Lawan

Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo dalam Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan: Revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan nasional di Universitas Katolik Santo Thomas Sumut, Sabtu (16/9)

(jw/csp)

Sabtu, 16 September 2017 | 17:35

Analisadaily (Medan) - Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo menegaskan, saat ini yang paling membahayakan bagi kesatuan bangsa adalah masalah radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, jika ada kelompok yang ingin memecah belah bangsa maka harus dilawan.

“Kalau ada harus dilawan,” ucap Tjahjo dalam Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan: Revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan nasional di Universitas Katolik Santo Thomas, Medan Sumatera Utara, Sabtu (16/9).

Sebagai pembicara dalam kesempatan itu, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latief, Ketua PB NU, Prof. Dr KH. Said Aqil Sirodj, Ketua Yayasan Unika Santo Thomas, Dr Cosmas Batubara dan perwakilan Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

Hadir juga Gubernur Sumatera Utara, H.Tengku Erry Nuradi,  Rektor Unika Santo Thomas, Frietz R Tambunan, Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut, Prof. Dr. Dian Armanto, Ketua Yayasan Unika Santo Thomas, Dr. Cosmas Batubara.

Ketua alumni terpilih Unika Santo Thomas, Oloan Simbolon, Anggota DPD RI, Parlindungan Purba, Wakil Walikota Medan, Akhyar Nasution, sejumlah alumni, civitas akademika dan mahasiswa.

Tidak boleh ada dakwah maupun khotbah yang dijadikan sebagai alat untuk mengubah ideologi negara, serta merusak kemajemukan bangsa. Kalau ada maka ini harus dibubarkan.

“Ini perintah bapak Jokowi. Kita harus berani melawan. tidak bolah ada pembiaran karena di negara itu ada aturan, di organisasi ada aturan di perguruan tinggi ada aturan, bahkan hingga di rumah tangga juga ada aturan. Jadi kalau ada ancaman, lawan,” tegasnya.

Dalam melakukan dakwah maupun khutbah, tambahnya, sebaiknya sesuai dengan ajaran agama. Misalnya, Islam harus sesuai Al-quran dan Hadis, kalau Kristen sesuai injil, begitu juga dengan agama lainnya.

“Tidak hanya itu, bila dalam proses organisasi di kelompok kita tahu bertujuan memecah NKRI, ini juga harus kita bubarkan,” tuturnya.

Negara tidak boleh kecolongan dan tidak boleh kalah dengan kelompok yang ingin memecah belah bangsa. Apalagi urusan menangkal terorisme dan radikalisme ini bukan hanya tugas TNI-Polri dan inteligen melainkan juga tanggungjawab kita bersama.

Pengalaman yang lalu sudah cukup membuat pelajaran bagi bangsa, di mana kelompok Gafatar mampu melakukan perekrutan mulai dari rekruitmen tertutup dan terbuka tidak ada yang tahu. Bahkan ketika kelompok itu sudah masuk hijrah tapah 4 yang akan melawan negara, barulah ketahuan.

“Inilah yang tidak boleh terjadi lagi. Negara kita memiliki aturan, untuk berhimpun, berkumpul membentuk kelompok itu harus mengikuti aturan yang ada sebagai negara yang punya ideologi,” tegas Tjahjo.

Sehingga ke depan nilai-nilai Pancasila ini harus dijabarkan dalam pengambilan kebijakan politik dan pengajaran apapun. “Kita harus menempatkan semua kebijakan yang diambil sesuai nilai-nilai Pancasila,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Mendagri juga menuturkan, tantangan lainnya yang harus dihadapi bangsa Indonesia setelah 72 tahun merdeka adalah masalah sandang, pangan dan juga papan yang belum terpenuhi seluruhnya.

(jw/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar