Maruarar: Utang Digunakan Untuk Rakyat dan Bangun Indonesia

Maruarar: Utang Digunakan Untuk Rakyat dan Bangun Indonesia

Maruarar Sirait saat ikut bersama Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengunjungi pembangunan jalan di Papua, Jumat (14/7)

(rzp/csp)

Jumat, 14 Juli 2017 | 11:15

Analisadaily (Jakarta) - Jumlah utang pemerintah yang mencapai Rp 3.672.33 triliun terus menjadi kritik dan sorotan publik. Sebab, selama 2.5 tahun masa kepemimpinan Presiden Jokowi, jumlah utang pemerintah bertambah hingga Rp 1.062 triliun.

Malah, dalam hitungan pakar ekonomi senior, Ichsanuddin Noorsy, utang luar negeri Indonesia per Juni 2017 mencapai Rp 4.364,767 triliun.

Menurutnya, utang negara tidak hanya dihitung dari hubungan bilateral, melainkan semua kewajiban negara yang harus dibayar ke pihak luar negeri, baik itu kepada negara lain, perusahaan asing, atau bank luar negeri.

"Karena kewajiban, maka dia tidak melulu pada posisi yang namanya pinjaman-pinjaman luar negeri," jelasnya dalam diskusi bertajuk "Utang Negara Untuk Siapa?" di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/7).

Acara tersebut juga dihadiri anggota Komisi XI dari Fraksi PDI Perjuangan Maruarar Sirait dan Ketua Banggar, Aziz Syamsuddin. Noorsy tak setuju dengan pemerintah yang kerap berutang ke luar negeri. Dalam pandangannya, utang akan membebani bangsa dan membawa negara ke situasi lebih sulit yaitu penjajahan.

"Utang adalah pintu masuk penjajahan," tegasnya.

Maruarar Sirait, Anggota DPR-RI yang membidangi bidang keuangan, memiliki argumen atas penambahan utang semasa pemerintahan Presiden Jokowi. Politikus PDI Perjuangan itu mengatakan, pemerintah mana pun tentu tak senang berutang.

"Bicara soal utang,  saya rasa tidak ada orang yang senang berutang, karena utang itu pasti ada kewajibannya," kata Maruarar.

Dia mengakui bila utang tentu selalu diiringi kewajiban. Utang pemerintah pun ada konsekuensinya. Namun sambungnya, utang yang dilakukan di era Presiden Jokowi jelas peruntukannya.

"Kalau kita lihat, utangnya apa? Infrastruktur," tegasnya.

Lebih lanjut Ara menceritakan pengalamannya saat mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja Lintas Nusantara beberapa waktu lalu. Dalam kegiatan itu, Presiden Jokowi secara maraton mengunjungi Aceh, Kalimantan Selatan, Maluku, Maluku Utara dan berakhir di Papua.

Saat itulah Maruarar menyaksikan langsung pesatnya pembangunan infrastruktur Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi. Pembangunan infrastruktur pun tidak hanya difokuskan di daerah-daerah yang berpenduduk padat, tetapi juga di wilayah pedalaman dan kawasan perbatasan.

"Di Sumatera Utara misalnya, jalan tol itu progresnya luar biasa. Pelabuhan-pelabuhan, bandara. Di Wamena bagaimana kita melihat pembangunan perbatasan kita dengan Papuan Nugini," tuturnya.

(rzp/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar