Malam Renungan Teater 2017: Kalangan Seniman Sumut Gelar Kegiatan Penutup Tahun

Malam Renungan Teater 2017: Kalangan Seniman Sumut Gelar Kegiatan Penutup Tahun

Persiapan kegiatan Malam Renungan Teater (MRT) 2017.

(rel/rzd)

Kamis, 28 Desember 2017 | 21:02

Analisadaily (Medan) - Penghujung tahun semakin dekat. Kalangan seniman di Sumatera Utara menggelar kegiatan penutup tahun yang melibatkan seniman lintas generasi dan lintas teritorial. Lebih dari 20 kelompok/person yang akan mengisi pertunjukan dan 30 kelompok peserta kemah teater.

Ketua Panitia, Agus Susilo, mengatakannya dalam konferensi pers Malam Renungan Teater (MRT) 2017 di Ruang Pameran, Taman Budaya Sumatera Utara, Kamis (28/12). Disebutkan, MRT 2017 tidak hanya melibatkan seniman Sumut, tetapi juga melibatkan seniman dari Sumatera Barat, Riau dan Malaysia.

Dilihat dari profil pesertanya, MRT 2017 sangat beragam dan lintas generasi. Mulai dari seniman di kelompok/komunitas seniman di SMA, kampus, dan umum. Bahkan, seniman dari angkatan 70-an pun akan terlibat.

"Kegiatan MRT 2017 ini akan dimulai dari siang hari pukul 14.00 WIB pada tanggal 29-31 Desember 2017 di Taman Budaya Sumatera Utara," katanya.

Berbagai kegiatan bakal digelar dalam MRT 2017, antara lain kemah teater, pertunjukan teater, diskusi teater, workshop teater, pameran arsip dan dokumentasi teater, musyawarah teater, launching buku teater Sumatera Utara dan ditutup dengan api unggun.

"Di sini ada workshop keaktoran, penyutradaraan, manajemen, artistik. Ini digelar secara terbuka untuk umum dan gratis. Makanya kita mengajak semua lapisan masyarakat dan yang menyukai kesenian untuk datang dan menyaksikan serta terlibat dalam sejarah perteateran di Sumatera Utara," ucapnya.

Dijelaskan Agus, Malam Renungan Teater (MRT) 2017 bertujuan untuk membangun ruang komunikasi antar kelompok/pelaku teater di Sumatera Utara dan  melahirkan kembali Forum Komunikasi Teater Sumut. Kegiatan ini juga untuk menjalin komunikasi kreatif untuk menumbuh kembangkan budaya proses, literasi teater dan pertunjukan serta festival teater di Sumut.

Selain itu, penting juga untuk memunculkan ruang bersama menyusun langkah yang strategis dan sistemik dalam mengembangkan teater Sumut di tengah pusaran arus informasi dan teknologi serta membangun ruang bersama antara teater dengan penonton.

Kegiatan ini juga berupaya untuk memberikan edukasi teater ke generasi muda Sumut yang multietnik dan memberikan pemahaman tentang potensi ekonomi kreatif dalam kerja-kerja produksi teater.

Mengingat, teater tumbuh dan berkembang di Sumatera Utara sebelum masa kemerdekaan RI. Ditandai dengan beberapa teater Makyong, Tembut-tembut, Hoda-hoda, Mangkudai-kudai, dll. Tahun 1933, teater modern telah muncul di Sumut. Hingga 1940-an, ada 8 kelompok teater besad di masa itu hingga tak heran Medan ramai dikunjungi rombongan Opera Stambul dari Malaysia.

Di masa pendudukan Jepang, kelompok-kelompok teater di Sumut beradaptasi dengan keinginan Jepang agar tetap bertahan dengan mengubah nama kelompok mereka menjadi berbau Jepang. Tokoh-tokoh di era ini ada Miss Dja, Piedro, Anjas Asmara, Bachtiar Effendy, M. Saleh Umar (Surapati) dan lain-lain.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar