Mahasiswa Tewas di Pemandian Air Panas Bukan Karena Longsor

Mahasiswa Tewas di Pemandian Air Panas Bukan Karena Longsor

Bangunan yang roboh hingga menyebabkan tujuh mahasiswa meninggal dunia di pemandian air panas Daun Paris

(jw/eal)

Senin, 3 Desember 2018 | 15:03

Analisadaily (Karo) - Peristiwa yang menewaskan tujuh mahasiswa Universitas Prima Indonesia (UNPRI) di pemandian air panas Daun Paris, Desa Raja Berneh, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, dikarenakan tembok penahan air roboh.

"Peristiwa itu bukan dikarenakan tanah longsor, melainkan karena bangunan tembok ambruk dan menimpa mahasiswa yang berada di bawah," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Karo, Natanail Peranginangin, kepada Analisadaily.com, Senin (3/12).

Natanail menjelaskan bahwa sebelum kejadian para mahasiswa mengikuti malam keakraban yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) UNPRI. Mereka berjumlah sekitar 53 orang. Setelah kegiatan para korban beristirahat di dalam pondok-pondok yang ada di pemandian tersebut.

"Minggu pagi kemarin memang hujan sangat deras dengan intensitas tinggi sehingga tembok yang berbatasan langsung dengan dinding tebing roboh. Mungkin karena konstruksi tanahnya yang tidak sesuai, dan sekarang sedang diselidiki pihak kepolisian," sambungnya.

Akibat peristiwa itu ada 16 orang yang menjadi korban, tujuh diantaranya meninggal dunia dan sembilan orang luka-luka.

Tujuh korban tewas berhasil diidentifikasi, yakni Sartika Theresia beru Pinem warga Medan, Shindy Simamora warga Sidikalang, Keryn beru Bangun warga Kabanjahe, Mones dan Elas Sari beru Sembiring warga Pancur Batu, Emiya Leli Sagita beru Tarigan warga Kabupaten Karo dan Angelika beru Ginting warga Desa Lau Kawar, Kabupaten Karo.  

"Untuk korban meninggal sudah diantarkan ke alamat masing-masing. Korban luka-luka masih dirawat di rumah sakit," ujar Natanail.

Saat ini evakuasi korban sudah dihentikan. Karena menurut data BPBD semua korban sudah dievakuasi. Lokasi bangunan yang roboh juga sudah diberi garis polisi.

Natanail mengimbau agar para pemilik pemandian meninjau kembali konstruksi dan perizinan kepada pemerintahan. Hal ini sesuai instruksi Bupati Karo, Terkelin Brahmana, yang juga sempat meninjau lokasi kejadian.

"Kita tidak ingin kejadian serupa terulang. Pak Bupati meminta setiap pemilik pemandian meninjau konstruksi bangunannya. Karena kawasan itu berpotensi terjadi bencana alam," pungkasnya.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar