Luas Lahan Terbakar di Indonesia Capai 857 Ribu Hektar

Luas Lahan Terbakar di Indonesia Capai 857 Ribu Hektar

Petugas tampak melakukan pemadaman api (BNPB)

(jw/csp)

Selasa, 22 Oktober 2019 | 21:14

Analisadaily (Jakarta) - Luas lahan terbakar di Indonesia mencapai 857 ribu hektar yang teridentifikasi dari Januari-September 2019. Karhutla tidak hanya di lahan gambut tapi juga lahan mineral.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, luas lahan gambut terbakar mencapai 227 ribu ha. Karhutla di lahan gambut paling besar ada di di Kalimantan Tengah dengan luas 76 ribu ha. Sedangkan di lahan mineral di Nusa Tenggara Timur, seluas 119 ribu ha.

"Karhutla di lahan mineral terjadi di seluruh Indonesia dengan luasan terdampak yang terkecil di Provinsi Banten dengan 9 ha," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Agus Wibowo, Selasa (22/10).

Berikut ini luasan lahan terdampak baik mineral dan gambut di beberapa provinsi setiap tahunnya. Kalimantan Tengah 134.227 ha, Kalimanan Barat 127.462 ha, Kalimantan Selatan 113.454 ha, Riau 75.871 ha, Sumatera Selatan 52.716 ha dan Jambi 39.638 ha.

"Berdasarkan data itu, total luasan lahan hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan tiga tahun terakhir. Luas karhutla pada 2018 sebesar 510 ribu ha, sedangkan pada 2016, luasnya 438 ribu ha," ujar Agus.

Data BNPB hari ini (22/10), pukul 08.00 WIB, masih terjadi karhutla di sejumlah wilayah, yaitu Sumsel 153 titik, Kalteng 44, Kalsel 23, Kalbar 5, dan Jambi 2.

"Data itu berdasarkan citra satelit modis-catalog lapan pada 24 jam terakhir. Masih adanya titik panas berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah terdampak. Data kualitas yang diukur dengan parameter PM 2.5 mengindikasikan kualitas pada tingkat baik hingga tidak sehat," jelasnya.

Rincian kualitas udara yang diukur dengan PM 2.5 di enam provinsi, yaitu Sumsel tidak sehat (136), Jambi tidak sehat (102), Kalteng tidak sehat (101), Kalsel tidak sehat (60), Riau sedang (27).

Hanya Kalimantan Barat kualitas udara menunjukkan tingkat baik (5) meskipun terdapat titik panas.

"Selain keenam provinsi itu, kebakaran juga masih terjadi di kawasan pegunungan seperti Gunung Cikuray, Ungaran dan Arjuno-Welirang, dan Ringgit," ucap Agus.

Agus menambahkan, hingga kini BNPB masih menyiagakan sejumlah helikopter untuk pengeboman air atau water-bombing maupun patroli. Total air untuk pengeboman air di seluruh wilayah mencapai 392 juta liter.

"BNPB bersama BPPT dan TNI juga melakukan operasi udara berupa teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menggunakan fixed-wing. Total garam yang telah disemai mencapai 272 ribu kg," tambahnya.

(jw/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar