Kritik Terhadap Pengaburan Semangat Hari Buruh

Kritik Terhadap Pengaburan Semangat Hari Buruh

Peringatan Hari Buruh di Gelanggang Remaja Medan, Selasa (1/5)

(jw/eal)

Selasa, 1 Mei 2018 | 22:04

Analisadaily (Medan) - May Day merupakan sejarah kelas buruh yang diinisiasi oleh sebuah gerakan kelas buruh tahun 1886. Saat itu kelas buruh di Amerika Serikat merasa tertindas karena bekerja di atas 18 jam per hari.

Pada tanggal 1 Mei 1886, 80.000 buruh di Amerika Serikat melakukan demonstrasi menuntut aturan 8 jam kerja per hari. Dalam beberapa hari, demonstrasi buruh segera disusul dengan mogok kerja massa yang membuat 70.000 pabrik terpaksa ditutup. Demonstrasi berlangsung selama empat hari. Penguasa bergidik melihat aksi massa itu.

Di hari keempat, tragedi Haymarket di Chicago pecah. Sebuah bom tiba-tiba meledak di dekat barisan polisi. Tujuh polisi tewas dan puluhan lainnya terluka akibat serangan itu.

Bereaksi atas bom tersebut, petugas mulai menembaki para demonstran yang melukai 200 orang dan menewaskan beberapa lainnya. Bom berbalas dengan tembakan ke arah massa. Insiden itu dikenal sebagai Insiden Haymarket atau Kerusuhan Haymarket.

Konferensi Internasional Sosialis tahun 1889 kemudian menetapkan demonstrasi besar-besaran di AS dan Kanada serta insiden Haymarket sebagai momentum untuk perjuangan para buruh. Awal mula aksi tanggal 1 Mei 1886 itu pun ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional.

Sampai tahun 2018, May Day tetap diperingati oleh kaum buruh, tidak terkecuali di Indonesia. Namun kondisinya kian tahun makin berubah. Sudah sangat jarang ditemui aksi buruh yang menyuarakan tuntutan.

Di Sumatera Utara, beberapa kelompok buruh memperingati May Day dengan beragam cara, mulai dari aksi turun ke jalan hingga merayakan dengan para pejabat pemerintahan.

Tercatat ada dua peringatan buruh bersama pemerintah di Kota Medan, Sumatera Utara. Pertama, peringatan hari buruh di Gelanggang Remaja, Jalan Sutomo Ujung Medan, Selasa (1/5). Di sana buruh dibagikan sembako yang mencapai 1.500 paket.

Walikota Medan, Dzulmi Eldin, hadir dalam peringatan hari buruh tersebut. Bahkan Eldin naik ke panggung utama untuk bernyanyi menghibur para buruh.

Sementara beberapa kelompok buruh mengikuti peringatan May Day di Lapangan Pendidikan Perkebunan (LPP), Jalan Wiliem Iskandar, Kecamatan Percut Sei Tuan. Acara itu disebut-sebut berlangsung berkat kesepakatan antara pemerintah, kepolisian dan serikat buruh.

Acara digelar cukup meriah dengan pentas musik, perlombaan dan lucky draw. Hadiahnya tidak tanggung, mulai dari setrika listrik, kipas angin, sepeda, sampai hadiah utama sepeda motor.

Sedangkan kelompok buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut masih konsisten turun ke jalan. Mereka menggelar aksi mulai dari Lapangan Merdeka Medan sampai ke Kantor Gubernur Sumut. Bahkan aksi itu digelar di tiga titik. Massanya pun mencapai ribuan orang.

Kondisi gerakan buruh zaman now ini mendapat kritik pedas dari seorang aktivis gerakan, Dadang Darmawan. Dia mengaku miris melihat gerakan buruh kekinian. Esensi gerakan buruh kian menghilang dan itu adalah bentuk pembungkaman terhadap gerakan buruh.

"Ada banyak upaya untuk meredam aksi buruh yang sejak orde baru ditakuti. Karena itu bentuk-bentuk mengubah aksi massa buruh dengan aksi lain yang lebih soft, itu upaya pemerintah menghindari konflik dan efek negatif. Padahal di kita ini, jika pemerintah tidak ditekan, justru pemerintah tidak akan mengubah kebijakan," kata akademisi FISIP USU tersebut, Selasa (1/5).

Dadang juga mengungkapkan bahwa gerakan buruh memang sudah terlihat, khususnya saat May Day ditetapkan menjadi hari libur nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2014 lalu.

"Ketika mengubah aksi tekanan, ini akan melemahkan tekanan. Kalau saya tagline May Day itu seperti Funday, jadi terkesan hari kegembiraan. Ada pengaburan makna esensi hari buruh sekarang ini," ungkapnya.

Dadang juga menuturkan bahwa aksi buruh yang kerap disusupi kepentingan politik menjadi fenomena biasa. Namun dirinya mengingatkan siapa pun yang terpilih bisa membuat kebijakan yang pro buruh.

"Buruh ini kan massa yang menarik untuk didekati konteks politik. Entitas politik selalu berharap dukungan. Dalam konteks politik sah-sah saja jika ada upaya menggoda para buruh untuk memilih calon. Yang penting adalah siapapun yang terpilih bisa memperjuangkan nasib buruh," tuturnya.

Meskipun demikian, perjuangan buruh masih membutuhkan waktu yang sangat panjang. Hari buruh yang ditetapkan sebagai libur nasional adalah salah satu bentuk penghormatan kepada buruh. Dadang juga mengutarakan ada kondisi yang masih paradoks dengan nasib buruh saat ini.

"Meski hari buruh dihormati dengan diliburkan, tapi kesejahteraan buruh justru tidak dapat kita tegakkan atau selamatkan. Jadi ada posisi yang diametral, antara penghormatan dengan nasib buruh. Perjuangan masih panjang, kita tahu kondisi negara kita belum dalam tingkat yang sempurna untuk kesejahteraan buruh," ujarnya.

"Buruh harus tetap melakukan tekanan kepada pemerintah, agar mengeluarkan kebijakan yang pro buruh," pungkas Dadang.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar